Tampilkan postingan dengan label Gangguan Penis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gangguan Penis. Tampilkan semua postingan

Ada apa dengan Penis dan Sperma?

Penis...senjata yang satu ini peuh dengan rahasia, dan mengundang banyak cerita. Simak kumpulan artikel terkait penis dan sperma berikut.


Penis

1.            6 Kiat Tingkatkan Kualitas Sperma
2.            6 Kiat Tingkatkan Kualitas Sperma
3.            Agar Sperma Makin Joss
4.            Antara Penis dan Ras
5.            Awas, Sperma Rusak karena Rokok
6.            Berapa Lama Sperma Bertahan Hidup?
7.            Biar Sperma Sehat
8.            Cairan Mani, Apa Isinya?
9.            Cara Aneh Memperlakukan 'Mr P'
11.        Folat Bikin Sperma OK!
12.        Folat Rendah Sperma Payah
14.        Hubungan Telunjuk Dan Mr.P
15.        Kecil Tapi Hebat
18.        Kok, Penisnya Kecil?
22.        Masalah pada Sperma Pria
29.        Mitos Seputar Ukuran Penis
32.        Mr P Bengkok, Normalkah?
33.        Mr P Oke, Kesehatan Pun Oke
38.        Penis Keras, Seks pun Puas?
39.        Penis Kok Sembunyi?

Sperma

46.        Sperma Bikin Wanita Bahagia
49.        Sperma yang Berkualitas
51.        Tips Posisi Buat Mr P Kecil

Berapa Ukuran Penis Normal?

T: Berapa besar ukuran penis yang normal?

J: Jika ukuran penis Anda 8-9cm ketika ereksi, maka Anda berada dalam kategori normal. Hingga kini, belum ada metode yang terbukti secara ilmiah dapat membuat penis lebih panjang dan besar, kecuali melalui operasi.(kompas,Kamis, 1 April 2010)

Obat Oles Pengeras Penis, Adakah?



Seorang pria usia 42 tahun beristeri 38 tahun, telah menikah selama 15 tahun. Hubungan keduanya baik-baik saja, tidak ada masalah. Meski begitu, kadang-kadang mereka merasakan bosan dan kurang bergairah untuk melakukan hubungan  intim.   

Suatu hari sang suami mendapat informasi dari seorang teman,  bahwa ada obat yang yang bisa membuat suasana berbeda. Jika obat tersebut  dioleskan pada kelamin pria, maka kelamin akan menjadi kuat, besar, dan tahan lama saat  berhubungan intim. 

Sang pria pun tertarik, lalu membelinya melalui teman  tersebut. Ketika dicoba, memang sepertinya muncul reaksi seperti yang diceritakan temannya. Namun ketika melakukan hubungan intim, ternyata sang istri  berteriak-teriak kesakitan. Dipikirnya karena kelaminnya berubah menjadi  sangat besar, tapi tampaknya bukan karena itu, melainkan reaksi alergi terhadap  obat tersebut.   

Yang ditanyakan:

1. Mengapa timbul reaksi seperti itu pada isterinya?  Sedangkan obat oles yang sama tidak menimbulkan reaksi apa pun terhadap isteri  temannya. 
2.    Jika betul bahwa sang isteri alergi terhadap  obat oles itu, apakah ada obat jenis lain untuk memperkuat ereksi kelamin pria,  yang tidak menimbulkan alergi?  3.    Supaya isteri tidak alergi terhadap obat oles buat pria, adakah penangkalnya? Apa yang perlu dilakukan isteri supaya tidak alergi? 
4.    Adakah latihan atau semacam senam yang dapat  dilakukan oleh pria agar kelaminnya bisa kuat dan lama saat ereksi?"

Berikut jawaban Prof. Wimpie Pangkahila, Sp. And * kepada sang pria.

Ada langkah yang kurang tepat telah dilakukan sang pria. Dia menyatakan "kurang  bergairah untuk melakukan hubungan intim, tetapi di pihak lain dia menggunakan obat oles agar kelamin menjadi kuat, besar, dan tahan lama". 

Padahal kalau memang dorongan seksualnya yang menurun, maka masalah inilah yang harus diatasi, bukan membuat penis menjadi kuat, besar, dan tahan lama. Jadi seharusnya dorongan seksualnya yang diatasi agar menjadi normal kembali. Kalau dorongan seksual normal tetapi ereksi masih juga terganggu, maka gangguan ereksi itulah yang harus diatasi kemudian.

Kerancuan seperti ini banyak terjadi di masyarakat, yang semakin dibuat bingung oleh berbagai informasi yang salah tentang seks, apalagi dihubungkan dengan iklan obat atau ramuan yang  dijanjikan dapat mengatasi masalah seksual. Padahal penanganan yang benar telah teresedia dan dapat diperoleh.

Beberapa tahun terakhir ini upaya ilmiah untuk menemukan obat atau cara mengatasi gangguan fungsi seksual, khususnya disfungsi ereksi, tampak semakin efektif.  Penelitian yang dilakukan di beberapa negara ditujukan untuk mendapatkan obat atau cara baru mengatasi disfungsi ereksi, yang khasiatnya baik, dengan efek samping ringan atau tidak ada efek samping, mudah dan nyaman digunakan. 

Sampai saat ini ada beberapa cara yang  diakui oleh para ahli untuk mengatasi disfungsi ereksi, yaitu sex therapy, obat minum, injeksi pada penis, penggunaan melalui saluran kencing, pompa vakum, dan operasi pemasangan prostesis.  Pemilihan cara yang  tersedia itu, umumnya didasarkan pada kepraktisan penggunaan, khasiat, dan efek samping.

Semakin praktis caranya, semakin disukai dan diminati. Tetapi kalau cara yang praktis tidak berkhasiat atau khasiatnya tidak seperti yang diharapkan, maka akan dicari cara lain yang lebih tidak praktis.  Karena itu penelitian kini ditujukan untuk mendapatkan obat atau cara yang lebih praktis lagi, dengan khasiat yang baik dan tanpa efek samping. Cara yang lebih praktis selain obat minum ialah obat oles atau krim.

Sampai saat ini beberapa penelitian telah dilakukan untuk mendapatkan obat oles yang dapat menimbulkan ereksi. Bahan yang telah digunakan sebagai obat minum atau injeksi, kini sedang diteliti dalam bentuk krim yang dioleskan ke penis.  Bahkan di negara tertentu yang  peraturan peredaran obatnya sangat longgar, obat oles itu telah diedarkan. 

Di Indonesia banyak sekali obat dan ramuan yang beredar, termasuk yang beredar secara gelap. Banyak warga masyarakat yang mudah sekali percaya dengan iklan atau informasi yang salah, khususnya yang menyangkut obat yang berhubungan dengan fungsi seksual. Obat oles termasuk salah satu obat itu.

Di banyak apotik, toko obat, bahkan pedagang kaki lima, dijual obat oles dalam bentuk krim, cairan, dan semprotan yang diiklankan dapat membuat ereksi, menambah ukuran penis, dan menahan ejakulasi. Persis seperti informasi yang diterima oleh Bapak yang menulis surat ini. 

Sepintas informasi itu terdengar menjanjikan. Bayangkan, satu obat oles dapat menghasilkan tiga manfaat sekaligus. Luar biasa! Tetapi tentu saja informasi itu tidak benar, yang disampaikan oleh orang yang tidak mengerti, dan hanya ingin menjual saja. Sementara masyarakat juga tidak mengerti dan percaya begitu saja. Bahan yang diperlukan untuk menghasilkan ereksi dan menahan terjadinya ejakulasi tidaklah sama. Apalagi untuk menambah ukuran penis.

Selama ini obat oles dalam bentuk krim, cairan, atau semprotan, yang diiklankan itu pada umumnya mengandung bahan pemati rasa (anaestesi).  Bila obat itu dioleskan ke permukaan penis, maka permukaan penis menjadi mati rasa. Dengan mati rasa, diharapkan ejakulasi tidak cepat terjadi.

Padahal, harapan itu tidak pasti terjadi karena ejakulasi yang terlampau cepat tidak selalu disebabkan oleh kepekaan ujung syaraf penis.  Bahkan sebaliknya, pengguna bahan mati rasa itu mengeluh karena tidak merasakan apa-apa ketika melakukan hubungan seksual. Bahkan keluhan juga disampaikan oleh sebagian isteri yang suaminya menggunakan bahan itu. 

Gangguan Dorongan Seksual
Saya tidak tahu bahan apa yang digunakan oleh Bapak penulis surat ini. Apakah dia menggunakan bahan pemati rasa ataukah bahan untuk menimbulkan ereksi, yang sebenarnya belum beredar secara resmi.  Karena itu saya tidak dapat menjelaskan reaksi apa yang terjadi sehingga menimbulkan rasa sakit pada sang isteri. Mungkin saja terjadi reaksi alergi terhadap bahan yang digunakan itu, atau mungkin efek samping bahan itu yang dirasakan oleh isteri.  

Sebenarnya pegangan resmi bagi para dokter yang diakui secara internasional untuk mengatasi disfungsi ereksi telah ada. Maka kalau Bapak penulis surat memang mengalami disfungsi ereksi, dia dapat menggunakan cara pengobatan yang ada. Tetapi kalau tidak mengalami disfungsi ereksi, sebenarnya dia tidak memerlukan pengobatan untuk disfungsi ereksi.

Kalau masalahnya adalah kurang  bergairah untuk melakukan hubungan intim, seperti yang diutarakan pada awal suratnya, maka itu adalah masalah gangguan dorongan seksual, walaupun juga bisa mengakibatkan disfungsi ereksi. Untuk masalah dorongan seksual, penanganannya berbeda dengan disfungsi ereksi.

Mengenai latihan agar bisa kuat dan lama saat ereksi seperti yang ditanyakan, sebenarnya membingungkan. Kalau yang dimaksud kuat berarti ereksinya baik, maka tidak ada latihan yang pasti dapat memperbaiki ereksi yang terganggu.

Masalahnya, disfungsi ereksi disebabkan oleh banyak hal, dan tidak mungkin bisa diatasi kalau penyebab dasarnya tidak diatasi. Latihan mengencangkan otot sekitar penis (disebut otot dasar panggul), hanya untuk membantu fungsi ereksi. Tapi latihan  ini juga bisa meningkatkan kontrol ejakulasi.                  

* Spesialis andrologi dan seksologi dari Universitas Udayana, Bali (Kompas,Selasa, 1/4/2008)

Penis Bengkok akibat Masturbasi?

"Saya seorang pria berusia 32 tahun, belum menikah. Saya mengalami kelainan alat kelamin dan gangguan seksual. Dari dulu sampai sekarang saya masih sering melakukan masturbasi. Hal ini sudah berlangsung mungkin lebih dari 10 tahun. Sekarang alat kelamin saya tidak lurus atau bengkok ke kiri, bengkokannya sekitar 30  derajat lebih.

Apakah ini terjadi karena saya sering melakukan masturbasi? Mungkinkah kebiasaan saya memakai celana dalam ketat yang menyebabkan pembengkokan?
Apakah ini akan memengaruhi ketika melakukan hubungan badan (misalnya istri merasa sakit karena miring)? Apa yang harus saya lakukan?

Saya masih ingat waktu dulu saya sering terangsang ketika melihat wanita yang seksi. Sekarang, jangankan melihat wanita seksi, mungkin menonton blue film pun saya belum tentu terangsang. Apakah ini terjadi karena masturbasi yang saya lakukan?
BI, Jakarta

Terpengaruh Mitos
Tampaknya mitos mengenai masturbasi masih kuat memengaruhi persepsi masyarakat. Padahal, informasi yang benar tentang masturbasi cukup sering disampaikan melalui berbagai kesempatan.

Masih banyak orang yang beranggapan salah tentang masturbasi, seperti Anda. Banyak orang yang beranggapan bahwa masturbasi dapat menimbulkan akibat antara lain menjadi mandul, gangguan ereksi, tulang keropos, dan memori terganggu.

Yang benar, masturbasi tidak menimbulkan akibat buruk apa pun secara fisik. Pendapat ini didasarkan pada banyak penelitian yang telah lama dilakukan.

Memang pada abad ke-18 pernah beredar buku yang menguraikan berbagai penyakit akibat masturbasi. Buku itu cukup menggemparkan, bukan hanya pada waktu itu, tetapi hingga untuk waktu yang lama. Namun, setelah banyak penelitian yang dilakukan dengan benar, terbukti dengan jelas bahwa masturbasi tidak menimbulkan akibat buruk apa pun secara fisik.

Bagaimana dengan akibat psikis? Akibat psikis, seperti perasaan bersalah, dapat timbul bila yang bersangkutan menganggap aktivitas melakukan masturbasi merupakan perbuatan dosa. Meski begitu, kalau yang bersangkutan tidak menganggap itu suatu dosa atau kesalahan, tidak akan muncul akibat psikis. Jadi, akibat psikis yang mungkin muncul sangat bersifat subjektif. 

Aktivitas masturbasi sebenarnya telah dilakukan oleh setiap manusia pada masa anak-anak, baik wanita maupun pria. Dalam perkembangan psikoseksual setiap manusia, ada suatu fase ketika anak-anak senang memegang-megang kelaminnya.

Bahkan, sebagian anak dapat mencapai orgasme. Sesungguhnya ini adalah suatu bentuk masturbasi, seperti yang dilakukan remaja dan dewasa. Bedanya, pada masa anak-anak masturbasi tidak direncanakan.

Mengenai penis Anda yang bengkok ke kiri, saya berani pastikan itu bukan akibat melakukan masturbasi. Penis normal memang tidak harus lurus benar ke arah depan, terutama pada saat ereksi. Keadaan bengkok normal ini umum terjadi dan tidak menimbulkan keluhan dan masalah apa pun.

Namun, ada juga keadaan tidak normal yang mengakibatkan penis menjadi bengkok dan terasa sakit khususnya ketika ereksi. Akibatnya hubungan seksual terganggu, bahkan terhambat. Gangguan ini terjadi pada penyakit peyronie.  

Konsultasi Seksologi di Tabloid Gaya Hidup Sehat dengan Prof. Wimpie Pangkahila, Sp.And (*)
(*) Spesialis Andrologi dan Seksolog serta dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana,  Bali  (Kompas,Sabtu, 28 Maret 2009)

Tambah Ukuran Penis, Apa Gunanya?


Saya umur 35 tahun, menikah dua tahun lalu. Tidak ada masalah dalam hubungan seks, istri bisa puas. Belum lama ini ada dokter yang memberi informasi bahwa dia punya cara membesarkan penis.

Mohon informasi, betulkah ada cara yang benar menurut ilmu kedokteran bahwa penis dapat diperbesar dengan suntik? Kalau ya, bagaimana caranya? Apakah cara itu benar dan aman? Apakah ada gunanya memperbesar ukuran penis?
- T.T, Jakarta

Untuk apa?
Agaknya mitos ukuran penis tetap beredar, bahkan ada dokter yang mengaku mempunyai cara memperbesar ukuran penis. Padahal, ada tiga pertanyaan yang perlu dicermati mengenai ukuran penis.

Pertama, ukuran penis yang telah berkembang normal sesungguhnya merupakan ukuran yang normal. Kedua, ukuran penis tidak berkaitan dengan fungsi ereksi dan kemampuan mengontrol ejakulasi. Kedua fungsi inilah yang penting bagi pria dalam konteks hubungan seksual yang memuaskan.

Ketiga, ukuran penis tidak berkaitan dengan kemampuan merasakan dan memberikan kepuasan seksual kepada pasangan. Jadi, sesungguhnya tidak ada alasan ilmiah berkaitan dengan fungsi seksual untuk menambah ukuran penis.

Kalaupun itu dilakukan, apa yang dimaksud dengan menambah ukuran penis? Menambah panjang, menambah besar, atau apa? Pertanyaan ini mutlak perlu diajukan, mengingat penis pada dasarnya terdiri atas ruang-ruang pembuluh darah. Sebagian kecil adalah kulit dan jaringan ikat.

Karena sebagian besar terdiri dari ruang-ruang pembuluh darah itulah, tidaklah rasional jika ukuran penis ditambah. Apakah ruang pembuluh darah itu yang akan ditambah ukurannya karena merupakan bagian terbersar dalam penis? Jawabannya tidak mungkin.

Karena itulah, yang selama ini dilakukan oleh pemasang iklan untuk menambah ukuran penis adalah dengan menyuntikkan bahan ke bagian bawah kulit penis. Bahan yang disuntikkan dapat berupa silikon cair atau kolagen.

Akibatnya sungguh mengerikan. Batang penis menjadi besar, berbenjol, tidak normal, tetapi bagian kepala penis tetap kecil sehingga terkesan aneh dan mengganggu. Sebagian orang mengalami gangguan ereksi, bahkan ada yang meninggal.

Saya cukup banyak menerima korban, para pria yang menerima suntikan silikon pada penisnya. Memang sungguh mengerikan perubahan bentuk penis yang menjadi tidak normal itu.

Beberapa waktu terakhir ini, beberapa pemasang iklan itu menyatakan menggunakan "minyak orang-orang" untuk disuntikkan. Namun, melihat reaksi yang terjadi, saya percaya mereka tetap menggunakan silikon cair atau kolagen.

Pernah juga cara operasi coba dilakukan untuk menambah ukuran penis. Caranya dengan menyisipkan tulang rawan untuk menambah ukuran panjang. Terbukti, cara itu tidak diminati. Mungkin karena tujuan menambah ukuran penis tidak jelas.

Kini pengobatan dengan sel punca dari sel lemak sedang dikembangkan. Proses itu pun dimanfaatkan untuk memperbesar ukuran penis. Namun, kalaupun kelak digunakan, hal itu tidak akan memberikan hasil seperti yang diharapkan.

Masalahnya kembali pada struktur penis yang sebagian besar terdiri dari ruang-ruang pembuluh darah. Penis pun bukan otot yang dapat diperbesar dengan latihan beban. Namun, masalah utamanya adalah untuk apa menambah ukuran penis?

Dijawab oleh Prof.Dr.dr.Wimpie Pangkahila, Sp.And (kompas,Senin, 24/5/2010)
 

Popular Posts

Cloud