Tampilkan postingan dengan label Sindrom Premenstruasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sindrom Premenstruasi. Tampilkan semua postingan

7 Fakta Sindrom PMS

Setiap wanita normal pasti mengalami gejala seperti ini: perasaan kembung, payudara nyeri dan sakit punggung, sindrom pramenstruasi (PMS) juga dapat menyebabkan mood menjadi tidak stabil, bahkan menyebabkan depresi. Beberapa wanita bahkan menjadi sangat sensitif dan sering merasa sedih tanpa tahu penyebabnya.

Kondisi ini sangat tidak nyaman bagi wanita. Menurut Dr. Ellie Cannon, ada tujuh fakta penting tentang PMS. Tentu saja, Anda, wanita, dapat segera mengatasinya agar tidak terjebak dalam kondisi emosi yang makin memburuk.


  1. Kapan kita harus berkonsultasi dengan dokter terkait dengan kondisi PMS? Yakni, ketika ada gejala serius yang berhubungan dengan kondisi fisik saat ini dan tubuh tidak bisa melakukan kegiatan. Juga ketiga gejala emosional mulai mengganggu hubungan pribadi.
  2. Apa yang memicu sindrom pramenstruasi? Bagian kedua dari siklus menstruasi didominasi oleh hormon progesteron. Nah, hormon ini menurunkan kadar serotonin, hormon bahagia dalam otak, dan yang bisa menyebabkan kembung, nyeri pada payudara serta sakit kepala.
  3. Apa ada obat bebas yang bisa mengurangi gejala PMS? Sebagian besar pil tidak efektif untuk mengurangi gejala PMS. Biar lebih aman dan alami, cobalah minum air hangat, makan sayur dan buah sehingga daya tahan tubuh tidak drop.
  4. Apa ada obat yang diresepkan oleh untuk mengurangi gejala PMS? Dosis ringan antidepresan seperti Prozac, cukup efektif untuk menangani masalah psikologis karena PMS. Ada juga beberapa obat lain, cobalah berkonsultasi dengan dokter lebih dahulu.
  5. Apa ada cara alami untuk mengurangi gejala PMS? Tingkatkan olahraga dan diet seimbang. Juga konsumsi vitamin B6 untuk membantu tubuh mengatasi perubahan mood.
  6. Dengan bertambahnya usia, apakah gejala PMS mengalami penurunan atau bertambah buruk? PMS biasanya terjadi pada wanita berusia 30 – 40 tahun, dan cenderung lebih buruk dengan bertambahnya usia. Ini terlihat pada wanita yang ibunya juga mengalami masalah PMS atau wanita yang kelebihan berat badan.
  7. Mengapa teh dan kopi malah memperparah PMS? Kandungan kafein dalam kopi dan teh memang bisa memperburuk rasa sakit. Jadi, Anda harus menghindari atau mengurangi minuman ini saat sedang mengalami PMS. (Sumber: Daily Mail)

Kiat Agar Tidak Sakit Menstruasi

 Untuk para perempuan, kehadiran tamu bulanan alias menstruasi adalah satu kelaziman. Namun, proses biologis perempuan ini menjadi siksaan sendiri ketika mereka harus berhadapan dengan PMS.

Menurut psikiater Sylvia Detri Elvira, kondisi Pre-Menstrual Syndrome alias sindrom pra-menstruasi (PMS) bisa terlihat jika telah berlangsung selama tiga kali siklus haid berturut-turut.

PMS, kata Sylvia, merupakan sekumpulan gejala yang muncul akibat perubahan hormon yang terjadi dalam tubuh wanita menjelang menstruasi atau haid. Penyebab aslinya belum diketahui. ''Namun diduga kuat, kondisi itu akibat perubahan hormon. PMS jika dibiarkan akan menimbulkan gangguan yang lebih parah atau yang disebut dengan disforia pra-menstruasi (PMDD),'' tuturnya.

Menurut Sylvia, gejala PMS antara lain adalah sakit perut, cepat tersinggung, kelelahan, rasa malas, nyeri sendi, pembengkakan pada tangan dan kaki, sakit kepala, sulit tidur, dan mudah marah tanpa alasan yang jelas. Kondisi seperti ini kerap dianggap biasa oleh masyarakat khususnya kaum wanita itu sendiri. ''Namun, jika dibiarkan, maka dampaknya akan mengganggu aktivitas sehari-hari, mengganggu hubungan dengan orang-orang terdekat, bahkan ada yang sampai ingin bunuh diri,'' ujarnya.

Sylvia menyatakan, gejala PMS bisa bermacam-macam.  Mulai dari gejala fisik, psikis, dan psikologi. Gejala tersebut akan hilang dengan sendirinya saat menstruasi datang. Ia menjelaskan, 90 persen wanita mengalami satu atau lebih gejala PMS. Gejala PMS sendiri sudah dikenal lama bahkan sejak zaman Hippocrates, 370 SM.

Jika wanita mengalami satu gejala menjelang haid selama tiga bulan berturut-turut, kata Sylvia, maka si wanita bisa disebut mengalami PMS. Namun bila si wanita mengalami lima gejala menjelang haid selama 12 bulan berturut-turut, maka si wanita itu mengalami PMDD. ''Baik PMS maupun PMDD merupakan kondisi yang tidak normal sehingga harus diobati karena berdampak negatif pada aktivitas sehari-hari,'' ujarnya.

Meski belum diketahui penyebab pastinya, kata Sylvia, ada kemungkinan beberapa penyebab PMS. Di antaranya faktor genetik dari ibu atau nenek, ada ketidakseimbangan neurotransmiter dan neurohormonal, adanya faktor psikologi yang memicu gejala PMS, dan gangguan hubungan dengan orang terdekat seperti dengan keluarga.

Sylvia mengungkapkan, gejala dari PMDD lebih parah lagi. Yakni merasa hidup tiada harapan, merendahkan diri sendiri, sulit makan, ingin tidur terus, cemas terus menerus, dan sering marah tanpa alasan yang jelas.

Sementara, Koordinator Pengabdian Masyarakat Departemen Obgin FKUI/RSCM,  Andon Hestiantoro mengatakan, PMS umumnya dialami oleh wanita usia subur karena terkait dengan ovulasi atau masa subur. ''Anak-anak remaja perempuan tidak mengalami PMS karena mereka belum mengalami ovulasi. Perlu diingat bahwa ovulasi datang dengan sendirinya, bukan lewat hubungan senggama,'' ujarnya.

Menurut Andon, PMS maupun PMDD biasanya muncul 14 hari ovulasi sebelum haid. Pengobatannya dapat dilakukan lewat terapi oral dengan mengonsumsi pil KB karena dapat menghambat hormon untuk mencegah ovulasi. Bagi wanita yang belum menikah, Andon menganjurkan agar mengkonsumsi pil KB dengan kadar estrogen yang lebih rendah.

Selain pil KB, vitamin B6 juga dapat dikonsumsi. Wanita yang sering mengalami payudara bengkak menjelang haid dapat mengkonsumsi Bromocriptine. Sedangkan yang tungkainya sering bengkak menjelang haid dapat mengkonsumsi Bioretika.

Namun gejala PMS maupun PMDD menjelang haid bisa dicegah dengan cara alami. Seperti rajin berolahraga khususnya aerobik selama 30 menit, jogging, berjalan kaki, dan modifikasi diet. Wanita juga dianjurkan lebih banyak mengkonsumsi karbohidrat kompleks dan serat yang terdapat pada makanan seperti roti gandum, pasta, sereal, buah, dan sayuran. ''Sebaiknya juga mengurangi konsumsi gula dan lemak selama menjalani diet untuk membantu meningkatkan energi dan menstabilkan mood, dan jangan minum alkohol,'' tegasnya. (republika)

Sidrom PMS, bikin Emosi dan Uring-Uringan

Sindrom pra menstruasi kerap diarahkan kepada wanita yang tiba-tiba jadi uring-uringan. Kabarnya PMS juga bisa membuat wanita sampai bunuh diri. Duh, mengerikan ya? Yuk, cari tahu seperti apa sebenarnya sindrom ini.

Melihat wanita yang tiba-tiba marah di setiap bulannya, banyak orang lalu tersenyum geli menanggapinya. Tuduhan yang kerap ditudingkan kepada wanita ini yaitu PMS (premenstrual syndrome) atau sindrom pra menstruasi.

Ya, PMS memang umum menjadi lelucon di kalangan wanita yang melihat rekan wanita lainnya jadi uring-uringan. Kabarnya, pada beberapa hari menjelang haid wanita bisa dihinggapi rasa tak nyaman dan mudah marah.

Menurut dr. Eric Kasmara, SpOG, spesialis kandungan dari Siloam Hospital Kebon Jeruk, Jakarta, tak salah bila banyak orang kerap berpikir demikian. PMS memang bisa menghinggapi 70-80 persen wanita usia reproduktif.

“Paling tidak, sekali dalam hidupnya wanita pernah mengalami PMS,” ungkap Eric. Namun, tak lantas setiap wanita menunjukkan gejala uring-uringan ini. Pada dasarnya gejala PMS amat beragam dan tak sama pada setiap individu. Gejala muncul seperti mood yang mudah berubah (swing mood) tak selalu menyertai PMS yang dialami setiap wanita.
Menurut dr.Yossy Agustanti Indradjaja, SpKJ, psikiater dari Siloam Hospital Kebon Jeruk, Jakarta, variasi gejala PMS yang ditunjukkan amat bergantung kepada kepribadian tiap orang. Bahkan pada kondisi tertentu, PMS juga dapat memperparah depresi yang dialami seseorang hingga menguatkan keinginan bunuh diri.

Akan tetapi, hal semacam ini amat jarang terjadi. Dibutuhkan kondisi-kondisi khusus hingga menyebabkan hal yang fatal. Seperti apa saja ya, kondisi tertentu itu?

Pengaruhi Fisik & Psikis
Sindrom pra menstruasi adalah kondisi yang dialami seorang wanita menjelang haid. Menurut Eric, banyak teori yang berusaha menjelaskan mengenai PMS, diantaranya mengaitkan ketidakseimbangan hormon kewanitaan dan pengaruhnya pada hormon lain maupun neuro transmitter.

Yossy menambahkan, ada pula pendapat lain yang mempercayai terjadinya penurunan serotonin dan beta endorfin menjelang haid yang menimbulkan gangguan fisik dan psikis. Seperti rasa kencang pada payudara, kembung, konstipasi, diare, timbul jerawat, rasa lelah, cemas, mudah marah, dan depresi.

Sayangnya, belum ada penelitian yang benar-benar pasti mengenai proses PMS itu sendiri. Namun, secara empiris gejala PMS diklasifikasikan ke dalam 4 tipe. Tipe A (anxiety), tipe H (hyper hydration), tipe C (craving), dan tipe D (depression).
PMS tipe A kebanyakan menunjukkan rasa cemas, tegang, dan sedikit kelabilan emosional. PMS tipe H lebih banyak menunjukkan gejala fisik seperti perut kembung, payudara tegang, pembengkakan kaki, hingga peningkatan berat badan menjelang haid karena penimbunan cairan.

PMS tipe C dikaitkan dengan peningkatan selera makan. Misalnya, menjelang haid cenderung jadi suka kudapan yang manis-manis. Sedangkan PMS tipe D menyebabkan depresi, sedih, lemah, dan bingung. Semua gejala ini dapat dirasakan 5 hari hingga 2 minggu menjelang haid, lalu akan hilang sendiri ketika sudah masuk masa menstruasi.

Bisa Sebabkan Bunuh Diri
PMS bukan sembarang perubahan fisik maupun psikis yang berlangsung pada beberapa hari menjelang haid. Eric menegaskan, perlu pemastian gejala PMS itu berulang 2-3 siklus haid berturut-turut. Jika ya, barulah dapat dikatakan seseorang mengalami PMS.

Gejala PMS ini kebanyakan merupakan gabungan beberapa tipe PMS yang tidak berdiri tunggal. Misalkan, gejala PMS tipe A berkombinasi dengan tipe C yang menimbulkan peningkatan nafsu makan sekaligus perubahan emosional yang tak terkontrol.

Namun, pada kasus tertentu, kombinasi PMS tipe A dan D justru bisa memperparah kondisi emosi penderita PMS. PMS ini kemudian dikenal dengan PMDD (pre menstruation dysphoric disorder) yang menyebabkan penderita yang sudah depresi, makin parah.

Pada suatu tingkat dapat mencapai depresi tingkat berat, ditandai dengan ketidakmampuan melakukan kegiatan sehari-hari. “Sekitar 2-8 persen wanita dengan PMS bisa mengalami PMDD,” ungkap Eric mengingatkan peluang terjadinya PMDD.

Bila PMDD disertai riwayat gangguan kejiwaan seperti sindrom manik-depresi (bipolar syndrome), kepribadian histronic maupun gangguan kepribadian ambang, serta sudah pernah tercetus ide bunuh diri, maka tak tertutup kemungkinan penderita depresi berat yang mengalami PMDD memutuskan bunuh diri.
Yossy tak menolak hal itu dapat terjadi, namun ia pun menekankan, PMS bukanlah pencetus utama dari keputusan bunuh diri. “Biasanya ada pencetus lain, misalnya sudah ada masalah yang cukup berat. Ketika PMS membuatnya semakin tak nyaman, ini akan makin memicu depresi yang sudah ada.”

Terapi Obat & Kepribadian
Menghadapi gejala PMS memang gampang-gampang sulit. Ada yang bisa melewatinya sendiri tanpa masalah. Ada pula yang kerap menjadi masalah bulanan. Bila kerap menemui masalah siklus bulanan, baik Yossy maupun Eric menyarankan untuk berkonsultasi kepada ahlinya.

Menurut Yossy, pada tahap awal biasanya pasien akan dianjurkan mengikuti konseling. Tujuannya untuk menanamkan pikiran positif pada pasien. “Biasanya seseorang baru akan melakukan konseling ketika gejala PMS sudah cukup mengganggu dirinya maupun lingkungannya,” ungkap Yossy.

Bila memang cukup mengganggu dalam konteks sosial, psikiater akan menganjurkan pasien mengikuti terapi suportif atau CBT (cognitive behavior therapy). Terapi ini memiliki tujuan utama untuk mengubah pola pikir. “Jadi, ketika ia merasa tak nyaman, ia tahu apa yang harus dilakukan!” terang Yossy.
Bila disertai gejala lain yang memperparah depresi seperti, kecemasan berlebih, kelabilan emosi, hingga sulit tidur, dokter akan memberi obat-obatan untuk mengatasi gejala tadi. Terapi ini bertujuan meningkatkan serotonin sehingga dapat memperbaiki mood.

Sedangkan untuk sehari-hari, Yossy menganjurkan bagi wanita yang kerap mengalami PMS untuk berolah raga lebih teratur. “Latihan fisik amat berguna untuk meningkatkan endorfin, sehingga bisa meningkatkan rasa nyaman,” pungkas Yossy. (tabloid nova)

PMS , Apa itu ?

Apa itu Sindroma Premenstrual (PMS)?
PMS adalah berbagai gejala fisik dan nonfisik yang dialami seorang perempuan, akibat reaksi tubuh terhadap fluktuasi kadar hormon yang terjadi menjelang menstruasi. Secara medis, hingga kini dilaporkan sekitar 100 gejala PMS, tetapi yang paling sering dialami adalah: nyeri dan kram perut, payudara kencang dan nyeri, kecanduan makanan tertentu, perubahan mood, mudah marah dan tersinggung, merasa depresi, perubahan nafsu makan, sakit kepala ringan, sulit berkonsentrasi,gangguan jerawat pada wajah bahkan gampang lelah dan susah tidur.

Apa Penyebab Sindroma Premenstrual (PMS)?
Sampai saat ini penyebabnya belum begitu jelas diketahui. Tapi ada kemungkinan hal tersebut erat kaitannya dengan perubahan hormonal dalam tubuh. 

Bagaimana Cara Mengatasi Sindroma Premenstrual (PMS)?
  • Kurangi makanan bergaram, seperti kentang goreng, kacang-kacangan, dan makanan berbumbu, untuk mengurangi penahanan air berlebih.
  • Kurangi makanan berupa tepung, gula, kafein, coklat.
  • Perbanyak makanan yang mengandung kalsium dan vitamin C dosis tinggi, seminggu sebelum menstruasi.
  • Makan makanan berserat dan perbanyak minum air putih.
  • Jika menstruasi cukup banyak mengeluarkan darah, perbanyak makan makanan atau suplemen yang mengandung zat besi agar terhindar dari anemia.
Bagaimana Cara Menjaga Kebersihan Selama Menstruasi?
  •  Sering-seringlah mengganti pembalut, setidaknya setiap 4 jam sekali.
  •  Saat membersihkan area 'V', lakukan dengan gerakan membersihkan dari arah depan ke belakang. Hal ini penting untuk dilakukan untuk menghindari perpindahan bakteri, virus dan berbagai pemicu gangguan kesehatan dari saluran pembuangan.

Mengurangi Derita Karena Haid

Sekitar 80% perempuan mengalami beberapa gejala Premenstrual Syndrome (PMS). Dari jumlah itu sekitar 10% mempunyai gejala PMS cukup parah sehingga berdampak pada pekerjaan, gaya hidup atau hubungan sosial secara signifikan.

Gejala PMS yang sering menghantui perempuan antara lain nyeri perut, nyeri payudara, mood yang labil, gampang capek, jerawatan, sakit kepala, mudah marah, sulit konsentrasai hingga gangguan tidur.

Kebanyakan perempuan masih sanggup menahan gejala PMS mereka, sehingga gejala PMS tersebut tidak mengganggu dan mereka dapat hidup sehat serta produktif.

PMS bisa dikurangi dengan melakukan kebiasaan hidup sehat, latihan secara berkala. Latihan yang dapat membantu meringankan gejala PMS seperti aerobik selama 30 menit yang dilakukan seminggu 3-5 kali, berenang, berjalan kaki, dan kegiatan low impact aerobik. Selain untuk mengurangi PMS juga bagus untuk kesehatan cardiovascular, menjaga dan mengurangi berat badan, serta peningkatan percaya diri.

Selain aerobik seperti dilansir dari Health24, Kamis (30/7/2009), sebaiknya juga jangan merokok, hindari alkohol, kafein, meningkatkan asupan karbohidrat yang kompleks, magnesium, seng, vitamin A, vitamin E, vitamin B6, dan dan usahakan setiap hari melakukan relaksasi untuk mengurangi stres.

Hal-hal dasar yang harus dipahami untuk mengurangi gejala PMS, yaitu:

  • Jangan melewatkan makan, untuk menjaga tingkat gula darah Anda, lebih baik makan sedikit tapi sering.
  • Jika Anda premenstrual, kebutuhan kalori anda meningkat 500 kalori perhari.
  • Makanlah makanan ringan dua kali sehari, di luar makanan utama Anda yang tiga kali sehari.
  • Makanlah protein pada saat makan siang dan makan malam.
  • Mengurangi konsumsi lemak dan gula.
  • Minumlah delapan gelas air putih sehari.
  • Pastikan Anda mengkonsumsi setidaknya 3 porsi buah-buahan dan sayuran (terutama sayuran yang hijau) setiap hari.
  • Hindari makan yang mengandung gula dalam jumlah besar (manis, kue dan biskuit).
  • Menjaga konsumsi garam agar tidak berlebihan, sehingga membuat tubuh Anda bisa menahan kandungan air.
  •  Pastikan makanan diet Anda kaya akan magnesium, besi, seng, kromium, dan yang penting fatty acid dan vitamin B, vitamin C, dan vitamin E.
  • Makanlah ikan setidaknya dua kali selama masa PMS.
  • Tingkatkan asupan karbohidrat yang kompleks (misal pasta dan nasi).
  • Hindari kafein yang terdapat di kopi, teh, minuman cola dan coklat. (detikhealth)

Cara Menghalau Sindrom Premenstruasi

Sindrom premenstruasi (PMS) merupakan suatu kejadian yang biasa bagi banyak perempuan. Sehingga para perempuan menganggap PMS sebagai bagian normal dari siklus menstruasi. Sekitar 8-20 persen dari wanita mendapatkan gejala PMS sedang hingga berat kira-kira 1 atau 2 minggu sebelum siklus menstruasi.

"Gejala PMS dapat meliputi berbagai perubahan fisik dan emosional. Keluhan terbesar dari gejala PMS adalah perubahan suasana hati, seperti merasa sangat kesal atau sedih. Sedangkan gejala fisik yang dialami saat PMS, antara lain perut kembung, nyeri payudara, dan sakit kepala," kata ginekolog Rebecca Kolp, MD, direktur medis dari Mass General West in Waltham, Mass.

Tingkat fluktuasi hormon dan bahan kimia otak diduga telah memainkan peran saat PMS. "Telah terdapat bukti bahwa diet yang baik meringankan keparahan gejala PMS," kata Elizabeth Bertone Johnson, ScD, seorang profesor epidemiologi dari University of Massachusetts, Amherst. Prof. Johnson telah melakukan penelitian mengenai peran gizi dalam PMS .

Seperti dikutip dari WebMD, Selasa (18/10/2011), berikut terdapat 8 cara untuk membantu meringankan gejala PMS, antara lain:

1. Menikmati makanan tinggi kalsium
Dalam sebuah penelitian dikemukakan bahwa, "wanita dengan asupan tinggi kalsium dan vitamin D memiliki kemungkinan yang lebih rendah untuk mengalami gejala PMS yang berat. Dengan 3 porsi makanan yang kaya kalsium dalam sehari, seperti susu rendah lemak, keju, yoghurt, jus jeruk dengan fortifikasi, atau susu kedelai dapat meringankan gejala PMS. Jika mengalami kesulitan untuk mendapatkan cukup vitamin D dari makanan sehari-hari, banyak suplemen kalsium yang juga mengandung vitamin D. Adapun mengapa kalsium dapat meringankan PMS, karena kalsium bekerja di otak untuk meredakan gejala depresi atau kecemasan, dan vitamin D juga dapat mempengaruhi perubahan emosional," kata Prof. Johnson.

2. Jangan melewatkan jadwal makan
"Perubahan hormon karena PMS dapat menyebabkan efek domino pada nafsu makan," kata Elizabeth Somer, seorang ahli diet dan penulis buku Eat Your Way to Happiness. Agar tidak sampai merasa terlalu lapar, maka sebaiknya makan makanan biasa dan makanan ringan sepanjang hari. Jika merasa sedang memiliki mood yang buruk akibat PMS, dengan melewatkan jadwal makan hanya akan membuat lebih mudah marah karena kadar gula darah menurun.

3. Mengonsumsi makanan yang kaya protein, buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian
Diet sehat setiap hari, meskipun tidak sedang PMS adalah pendekatan yang lebih baik untuk meringankan gejala PMS. Sebuah penelitian juga telah menunjukkan bahwa, wanita yang mengonsumsi makanan yang tinggi tiamin (vitamin B1) dan riboflavin (vitamin B2) memiliki risiko yang signifikan lebih rendah dari keparahan gejala PMS. Hal tersebut akan bermanfaat bagi perempuan yang mendapatkan asupan vitamin B dari makanan, bukan dari suplemen.

4. Jangan mengonsumsi makanan yang mengandung terlalu banyak gula
Gula dapat menjadi penyebab perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron, dan juga dapat menurunkan kadar bahan kimia serotonin dalam otak. Perubahan tersebut dapat mempengaruhi suasana hati seseorang dan memicu gejala PMS. Bahkan penelitian telah menunjukkan bahwa, beberapa wanita yang sedang PMS sebaiknya mengonsumsi 200-500 kalori tambahan per hari. Jumlah tambahan asupan tersebut dapat berasal dari biji-bijian. Daripada mengonsumsi makanan yang mengandung banyak gula dan dapat menurunkan kadar serotonin.

5. Mengonsumsi alkohol dan kafein
Sebuah penelitian telah mengungkapkan bahwa, mengonsumsi alkohol dapat membantu wanita yang mengalami PMS atau Premenstrual dysphoric disorder (PMDD), mungkin sebagai upaya untuk mengobati gejala PMS yang dialami.

PMDD adalah bentuk yang lebih parah dari PMS, di mana gejala emosional lebih dominan. Meskipun para wanita sering disarankan untuk menghentikan konsumsi alkohol dan kafein. Namun belum ditemukan bukti bahwa alkohol dan kafein dapat merugikan bagi perempuan yang mengalami gejala PMS yang parah. Sehingga tidak ada salahnya jika mengonsumsi alkohol dan kafein untuk meredakan nyeri payudara dan perut kembung akibat dari PMS.Tentunya hal tersebut tidak berefek negatif jika tidak dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan.

6. Mengurangi asupan garam
Karena hampir segala makanan mengandung garam sehingga hampir mustahil untuk menghindari natrium sama sekali. "Tetapi mengurangi asupan garam dapat mengurangi kembung dan retensi air tidak nyaman dari PMS," kata Somer.

7. Mempertimbangkan penggunaan suplemen
Selain makan makanan sehat, mengobati gejala PMS juga dapat dengan kombinasi olahraga, pengurangan stres, dan beberapa suplemen. Sebaiknya setiap hari mengonsumsi multivitamin, antara lain:
a. 100 mg vitamin B6 per hari
b. 600 mg kalsium karbonat dengan vitamin D setiap hari
c. 400 mg magnesium oksida

Mengonsumsi vitamin B6 dan magnesium saat PMS mungkin dapat memperbaiki perubahan mood, dan magnesium dapat mengurangi retensi air. Seperti biasa, beritahu dokter mengenai suplemen yang dikonsumsi untuk menghindari interaksi obat yang mungkin terjadi.

8. Melakukan gaya hidup yang sehat
Ada beberapa bukti bahwa mempertahankan berat badan yang sehat dapat membantu mencegah PMS, dan bahwa wanita yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas lebih cenderung mengalami gejala PMS yang parah. Melakukan beberapa latihan fisik dapat membantu menjaga ukuran pinggang dan juga dapat merupakan suatu kegiatan untuk melepaskan stres. "Stres memainkan peran besar dalam intensitas gejala PMS," kata Kolp. Sehingga mengurangi gejala PMS dapat dengan kegiatan yang membuat pikiran rileks, seperti berolahraga, atau melakukan yoga.

Merasa lelah juga merupakan gejala lain dari PMS, sehingga saat PMS mungkin membutuhkan lebih banyak tidur dibanding biasanya. Sebuah penelitian juga telah menunjukkan bahwa merokok, terutama pada remaja, dapat meningkatkan risiko untuk mengalami gejala PMS yang parah. (detikhealth)
 

Popular Posts

Cloud