Tampilkan postingan dengan label Payudara Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Payudara Wanita. Tampilkan semua postingan
Bagi perempuan, payudara adalah aset yang harus dijaga kesehatan dan keindahannya. Inilah lima fakta tentang aset tersebut.
1. Punya siklus bulanan
Seminggu sebelum dan selama haid berlangsung, hormon progesteron yang berlebihan akan membuat payudara membesar, tidak rata, dan terasa sakit. Sehari setelah haid, jaringan payudara akan lebih lembut.
2. Bisa keriput
Baju renang tipis hanya bisa menghalangi sinar matahari dengan kadar SPF 5 atau 7. Olesi krim yang mengandung SPF 15 ditambah UVA dan UVB saat renang. Tanpa perlindungan cukup, payudara bisa keriput dan timbul bintik-bintik cokelat.
3. Hindari posisi tidur tengkurap
Posisi tidur tengkurap memang tak akan membuat payudara Anda mengempis, tapi bentuknya menjadi tidak sempurna. Demi kenyamanan dan bentuk payudara tidak berubah, kenakan bra yang nyaman dipakai saat tidur. Hindra bra berkawat.
4. Lebih besar kanan
Payudara sebelah kanan biasanya lebih besar dari kiri. Hal ini dikarenakan payudara kanan mempunyai banyak jaringan ketimbang saudara kembarnya.
5. Punya area T
Area di atas dan sela payudara dipenuhi kelenjar minyak. Minyak yang berlebihan menimbulkan bintik hitam dan jerawat. Untuk itu, bersihkan area T setiap hari dengan bedak atau pelembab antibakteri.
(cHIC, Kompas,Selasa, 13 Mei 2008)
Kanker payudara tergolong penyakit yang paling ditakuti perempuan. Padahal jika Anda mengetahui gejalanya sejak usia muda, peluangnya untuk berkembang menjadi kanker jauh lebih rendah daripada perempuan yang lebih tua. Dan jika kanker itu menyerang, sifatnya akan lebih agresif, demikian menurut Debra Mangino, MD, dari Memorial Sloan-Kettering Cancer Center di New York.
Karena itu, Anda perlu memelihara gaya hidup yang sehat untuk melindungi payudara Anda. Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk menjaga anggota tubuh Anda ini tetap sehat:
1. Jaga berat sehat
Menambah berat badan ternyata bisa meningkatkan risiko mengembangkan kanker payudara, sekaligus mengurangi kemungkinan Anda bertahan dari penyakit tersebut, demikian menurut Harold Freeman, MD, presiden dan pendiri Ralph Lauren Center for Cancer and Prevention di New York City.
2. Jangan malas berolahraga
Memang berat memulai latihan, namun bila tak segera dimulai, Anda tidak akan terbiasa. Lakukan latihan selama 45 menit hingga 1 jam, 3-5 kali seminggu. Latihan secara teratur bisa membantu mencegah penyakit ini dengan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh Anda, menyingkirkan obesitas, dan menurunkan kadar estrogen dan insulin.
3. Kurangi alkohol
Banyak yang mengatakan, sedikit alkohol akan baik untuk kesehatan. Ternyata, hal ini lebih baik bila diterapkan pada pria. Sedangkan pada wanita, penelitian menunjukkan bahwa dua gelas alkohol sehari dapat meningkatkan risiko kanker payudara hingga 21 persen. Namun, Anda bisa mengambil manfaat alkohol ini dengan mengudap anggur segar. Resveratrol, bahan yang terdapat pada kulit anggur, ternyata mampu mengurangi kadar estrogen, yang bisa mengurangi risiko pengembangan kanker payudara.
4. Makan brokoli mentah
Kita sudah tahu apa manfaat sayuran, tetapi masih saja kita malas mengonsumsinya. Sayuran yang mampu memberi perlindungan ekstra pada payudara contohnya brokoli dan kale (sejenis kol hijau). Sayuran ini mengandung sulforaphane, yang diyakini membantu mencegah pembelahan sel-sel kanker. Agar efeknya dalam melawan kanker bertambah kuat, makanlah dalam keadaan mentah.
5. Kenali riwayat keluarga
Perempuan yang pernah mengidap kanker payudara memang tidak secara otomatis akan "mewariskan" penyakit ini pada anak-anak perempuannya. Namun, "Dari sekitar 15 persen kasus kanker payudara, ada riwayat keluarga yang terkena penyakit tersebut," kata Freeman. Jika Anda memiliki seorang anggota keluarga tingkat pertama yang pernah mengidap kanker payudara, risiko Anda memang meningkat. Jika ada dua anggota keluarga yang terkena, risiko Anda meningkat lima kali lipat.
6. Periksakan diri
Semua perempuan seharusnya menjalani pemeriksaan payudara secara klinis setidaknya setiap tiga tahun, serta pemeriksaan setiap tahun berikut mamogram sejak berusia 40 tahun. Perempuan yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara harus mulai melakukan screening 10 tahun sebelum usia saat anggota keluarga didiagnosa dengan penyakit tersebut. Tidak ada yang perlu ditakutkan bila Anda memulainya sedini mungkin, bukan?
Sumber : Womens Health , Kompas,Kamis, 29 April 2010
Banyak orang rela mengeluarkan biaya yang tak sedikit dan berisiko tinggi untuk mendapatkan payudara yang lebih indah. Dengan silikon misalnya. Padahal ada cara yang lebih mudah dan murah untuk mendapatkannya, tanpa perlu operasi dan bisa dilakukan di mana dan kapan saja. Mau tahu caranya? Ikuti enam gerakan berikut.
Gerakan 1
- Kedua tangan saling memegang di depan dada. Tangan kiri memegang lengan tepat di bawah siku kanan. Sedangkan tangan kanan juga memegang lengan tepat di bawah siku kiri, sehingga terbentuk segi empat.
- Dorong pergelangan tangan kanan ke arah kiri, dan pergelangan tangan kiri didorong ke kanan secara bersamaan hingga otot payudara terasa bergerak.
- Lakukan 3x8 hitungan.
Gerakan 2
- Rentangkan kedua tangan ke depan, tekuk siku dengan telapak tangan mengepal.
- Gerakkan tangan ke atas dan bawah, ke arah dalam, secara bergantian antara kiri dan kanan, tanpa saling bersentuhan satu sama lain, sampai payudara terasa naik turun.
- Lakukan 3x8 hitungan.
Gerakan 3
- Rentangkan kedua tangan ke depan, tekuk siku dengan telapak tangan mengepal.
- Angkat kedua tangan ke atas sampai otot payudara terasa tertarik.
- Lakukan 3x8 hitungan.
Gerakan 4
- Tangan kanan ke atas dan tangan kiri di pinggang.
- Tarik tangan kanan ke belakang hingga payudara terasa tertarik.
- Lakukan 3x8 hitungan.
- Lakukan pada tangan lainnya.
Gerakan 5
- Angkat tangan ke atas dengan posisi telapak tangan menghadap ke atas, putar ke arah depan dan angkat kembali kedua tangan sampai lengan atas bagian dalam menyentuh payudara. Jadi mengangkat payudara dari bawah.
- Lakukan 3x8 hitungan.
Gerakan 6
- Kedua tangan di samping.
- Tarik tangan ke belakang sejauh mungkin sampai payudara terasa terangkat.
- Lakukan 3x8 hitungan.
Tips
- Gerakan-gerakan ini bisa dilakukan pada posisi berdiri maupun duduk.
- Setiap latihan, posisi tubuh dalam keadaan tegak dan perut ditarik ke dalam.
- Selingi dengan istirahat sekitar 10 menit.
- Hindari kebiasaan yang membuat payudara terlihat turun, seperti membungkukkan badan.
(Chic, Kompas,Selasa, 26 Agustus 2008)
Gerakan 1
- Kedua tangan saling memegang di depan dada. Tangan kiri memegang lengan tepat di bawah siku kanan. Sedangkan tangan kanan juga memegang lengan tepat di bawah siku kiri, sehingga terbentuk segi empat.
- Dorong pergelangan tangan kanan ke arah kiri, dan pergelangan tangan kiri didorong ke kanan secara bersamaan hingga otot payudara terasa bergerak.
- Lakukan 3x8 hitungan.
Gerakan 2
- Rentangkan kedua tangan ke depan, tekuk siku dengan telapak tangan mengepal.
- Gerakkan tangan ke atas dan bawah, ke arah dalam, secara bergantian antara kiri dan kanan, tanpa saling bersentuhan satu sama lain, sampai payudara terasa naik turun.
- Lakukan 3x8 hitungan.
Gerakan 3
- Rentangkan kedua tangan ke depan, tekuk siku dengan telapak tangan mengepal.
- Angkat kedua tangan ke atas sampai otot payudara terasa tertarik.
- Lakukan 3x8 hitungan.
Gerakan 4
- Tangan kanan ke atas dan tangan kiri di pinggang.
- Tarik tangan kanan ke belakang hingga payudara terasa tertarik.
- Lakukan 3x8 hitungan.
- Lakukan pada tangan lainnya.
Gerakan 5
- Angkat tangan ke atas dengan posisi telapak tangan menghadap ke atas, putar ke arah depan dan angkat kembali kedua tangan sampai lengan atas bagian dalam menyentuh payudara. Jadi mengangkat payudara dari bawah.
- Lakukan 3x8 hitungan.
Gerakan 6
- Kedua tangan di samping.
- Tarik tangan ke belakang sejauh mungkin sampai payudara terasa terangkat.
- Lakukan 3x8 hitungan.
Tips
- Gerakan-gerakan ini bisa dilakukan pada posisi berdiri maupun duduk.
- Setiap latihan, posisi tubuh dalam keadaan tegak dan perut ditarik ke dalam.
- Selingi dengan istirahat sekitar 10 menit.
- Hindari kebiasaan yang membuat payudara terlihat turun, seperti membungkukkan badan.
(Chic, Kompas,Selasa, 26 Agustus 2008)
INGIN terhindar dari risiko kanker payudara? Cobalah mengubah gaya hidup dengan lebih banyak beraktivitas termasuk meluangkan waktu berolahraga.
Suatu riset menunjukkan, aktivitas yang membuat tubuh bergerak aktif dan membakar kalori mampu menekan risiko para wanita sehat dan lanjut usia mengidap kanker payudara hingga 30 persen.
Penelitian di Amerika Serikat melibatkan sekitar 30.000 wanita pasca-menopause memperlihatkan bahwa aktivitas yang menguras tenaga -- mulai dari jenis pekerjaan rumah seperti mengepel lantai hingga olahraga jogging -- dapat melindungi para kaum Hawa dari ancaman kanker payudara, bahkan juga buat mereka yang tak termasuk kelompok berisiko tinggi.
Faedah olahraga dan aktivitas ini, kata peneliti, lebih nyata terlihat di antara para wanita yang berbadan kurus.
"Kami tahu bahwa kegemukan telah menyebabkan risiko wanita mengidap kanker payudara meningkat. Apa yang ditunjukkan riset kami, para wanita yang tidak mengalami peningkatan risiko akan memperoleh faedahnya jika mereka berolahraga," ungkap Michael Leitzmann, peneliti dari National Cancer Institute of the U.S. National Institutes of Health.
Sejumlah penelitian lain menyebutkan bahwa aktivitas yang menguras kalori seperti olahraga dapat menghindarkan seseorang dari sakit jantung, kanker dan penyakit degeneratif lainnya.
Dalam risetnya, Leitzmann menggunakan teknik kuisioner untuk menentukan seberapa sering responden wanita melakukan olahraga atau beraktivitas. Semua wanita dalam kondisi sehat ketika riset dimulai. Dalam 11 tahun kemudian, penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan partisipan yang paling rajin beraktivitas atau berolahraga berisiko 13 persen lebih rendah mengidap kanker.
Penurunan risiko ini tercatat lebih besar lagi -- sekitar 30 persen --ketika para ahli membandingkannya dengan para wanita yang berat badannya normal. "Hubungannya akan lebih kuat di antara wanita yang berbadan ramping," ungkap Leitzmann, yang juga bekerja di University Hospital, Regensburg, Jerman.
Yang menarik, jenis aktivitas yang tidak terlalu menguras tenaga seperti pekerjaan rumah yang ringan, berjalan kaki, hiking, tampaknya tidak terlalu signifikan memberikan efek perlindungan, kata peneliti yang memuat risetnya dalam jurnal BioMed Central's Breast Cancer Research.
Riset ini tidak menjelaskan mengapa olahraga dapat memberikan manfaat bagi pencegahan kanker, namun Leitzmann mencatat bahwa penelitian lain telah menujukkan bahwa bergerak aktif dapat menurunkan kadar estrogen s -- yang merupakan salah satu faktor risiko -- selain juga dapat memberikan proteksi terhadap sistem kekebalan secara umum.
Sumber : Reuters , Kompas,Jumat, 31 Oktober 2008
Bolehlah bila kanker payudara disebut sebagai momok bagi kaum wanita karena kanker ini akan terus menghantui sepanjang hidupnya. Apa yang bisa kita lakukan? Lakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI).
Di Indonesia, jumlah penderita kanker payudara masih menduduki tingkat kedua setelah kanker mulut rahim. Namun, data di Rumah Sakit Kanker Dharmais tahun 2003 menemukan bahwa kasus kanker payudara sudah melebihi jumlah kanker mulut rahim (serviks).
Menurut dr Noorwati Sutandyo, SpPD, kanker payudara adalah tumbuhnya sel abnormal di payudara yang tidak mengenal batas volume serta bisa menyebar. "Benjolan di payudara disebut jinak jika tetap di situ, dan ganas jika menjalar ke tempat lain, seperti ke paru-paru, hati, tulang, atau otak," kata dokter yang menjadi staf pengajar di Subbagian Hematologi-Onkologi Klinik FKUI/RSCM.
Ada beberapa penyebab kanker payudara, yakni faktor genetik atau keturunan, faktor hormon, pola makan yang tinggi lemak dan rendah serat, alkohol dan rokok, serta faktor lain seperti kegemukan, usia yang semakin tua, serta riwayat mempunyai tumor jinak. "Biasanya seorang perempuan tidak merasakan gejala apa pun. Namun ketika tumor semakin besar, barulah muncul gejala-gejala," papar Noorwati.
Gejala paling umum adalah:
1. Muncul benjolan di payudara yang permanen, terdapat perubahan bentuk dan ukuran payudara, benjolan di sekitar ketiak.
2. Kelainan kulit berupa ruam pada kulit di sekitar payudara, areola atau puting terlihat bersisik, memerah, dan bengkak. "Tanda ini terkadang sering disangka sebagai eksim," kata Noorwati.
3. Kelainan puting, yakni keluar cairan dari puting susu, puting susu menjadi lunak. Oleh karena itu Noorwati mengingatkan agar kita perlu mewaspadai jika menemukan bercak di pakaian dalam.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya? "Agak sulit mencegahnya. Santai saja, hiduplah dengan tenang, seimbang antara kerja, olahraga, dan rekreasi. Juga jaga pola makan yang sehat," ujar Noorwati.
Deteksi, Deteksi
Menurut Noorwati, kanker payudara yang diketahui baru pada stadium satu kemungkinan sembuhnya lebih tinggi dan tidak perlu dilakukan operasi pengangkatan payudara. Itu sebabnya, deteksi sedini mungkin sangat penting. Cara paling mudah dan murah untuk mendeteksi kanker ini adalah melakukan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari).
Sadari dilakukan pada 7-10 hari seusai menstruasi karena pada saat itu payudara terasa lunak. Dalam posisi berbaring atau berdiri, kita bisa meraba dengan tiga jari (telunjuk, tengah, dan jari manis) secara lembut ke payudara.
Jika menemukan benjolan atau kerutan, bentuk payudara tidak simetris, kulit berubah seperti kulit jeruk, dan pembesaran kelenjar getah bening di ketiak, segera periksakan ke dokter.
"Tujuan dari Sadari secara rutin adalah untuk merasakan dan mengenal lekuk-lekuk payudara sehingga jika terjadi perubahan dapat diketahui segera," kata Noorwati.(Kompas,Jumat, 4 Juli 2008)
Memiliki hidung bangir, kulit kencang dan dada yang aduhai ternyata tengah menggejala di Yunani, dalam beberapa tahun belakangan ini. Berdasarkan data yang dihimpun Masyarakat Antarbangsa untuk Bedah Plastik Kecantikan (ISAPS) menyebutkan permintaan bedah plastik di Yunani mengalami peningkatan yang cukup tajam, terutama di kalangan anak muda dengan usia kisaran di bawah 21 tahun.
Surat kabar Kathimerini, Kamis (14/2) menyebutkan setidaknya 15 ribu bedah plastik dilakukan di Yunani setiap tahun. Operasi yang paling digemari tentu saja mulai perbaikan hidung, pengencangan kulit, dan pembesaran payudara. Jika dibandingkan dengan anak-anak muda di bagian lain Eropa barat, jumlah tersebut jauh lebih tinggi dengan di Inggris (8.114), Denmark (7.680), Italia (5.400), dan Swedia (4.902).
Di Yunani, sekitar 24 persen bedah plastik dilakukan pasien berusia kurang dari 21 tahun. Jumlah tersebut bisa digolongkan terbanyak di dunia untuk kelompok umur itu. Peningkatan jumlah pelaku operasi bedah plastik di Yunani juga klian digemari di kalangan pria. "Dulu hanya 15 persen pria menjadi pasien. Sekarang, perbandingan antara pria dan wanita adalah 30 dengan 70 dan terus meningkat menuju keseimbangan," kata Andreas Koupas, wakil presiden Masyarakat Yunani Pengguna Bedah Plastik untuk Kecantikan dan Perbaikan (HESRAS).
Selain perbaikan bentuk hidung, kebanyakan pria Yunani suka melakukan bedah perbaikan bentuk telinga, pengurangan keriput dan pembentukan perut. Sementara di kalangan perempuannya, operasi yang lebih digemari tentu saja pengecilan perut dan sedot lemak serta pembesaran payudara. (Kompas,Jumat, 15 Februari 2008)
Program nasional deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara, Senin (21/4), dicanangkan Ibu Negara Ny Ani Susilo Bambang Yudhoyono, di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta Pusat. Pencanangan ini ditandai penyerahan secara simbolis bantuan Depkes berupa alat deteksi dini kepada enam bupati serta mobil mammografi kepada RS Dharmais.
"Angka kematian karena kanker menempati urutan kedua tertinggi di dunia setelah penyakit kardiovaskular. Di Indonesia, jenis kanker yang paling banyak diderita perempuan adalah kanker payudara dan kanker leher rahim," kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, pada acara bertema "Dengan Semangat Ibu Kartini, Kita Selamatkan Perempuan Indonesia dari Penyakit Kanker melalui Deteksi Dini."
Deteksi kedua penyakit ini dapat dilakukan dengan sederhana. Untuk kanker leher rahim dideteksi dengan metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) yang sangat sederhana, murah, nyaman, praktis dan mudah. Metode IVA dirancang untuk masyarakat yang jauh dari fasilitas kesehatan. Sedangkan untuk masyarakat kota, tersedia metode deteksi dini dengan cara Pap Smear.
Sementara deteksi dini kanker payudara dapat menggunakan metode SADARI (periksa payudara sendiri) dilanjutkan dengan pemeriksaan klinis payudara oleh petugas kesehatan terlatih, pemeriksaan dengan ultrasonografi atau pemeriksaan dengan mammografi.
Deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara adalah terobosan inovatif dalam pembangunan kesehatan untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian. "Meski kegiatan deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara ditujukan bagi kaum perempuan, namun pengendalian kanker oleh Departemen Kesehatan ditujukan bagi kaum perempuan dan laki-laki," ujar Fadilah. (Kompas,Senin, 21 April 2008 )
BEBERAPA jenis jamur sejak lama telah dikenal memiliki khasiat bagi penyembuhan berbagai penyakit. Di antara sekian banyak jenis, sebut saja misalnya jamur tiram, jamur Maiteke, Ling zhie dan Shiitake. Salah satu jenis lain yang juga dikenal adalah Phellinus linteus yang telah digunakaan berabad-abad sebagai obat di kawasan Asia Timur. Bahkan dongeng Asia konon menyebutkan jamur berwarna kuning ini dapat menghidupkan orang yang sudah mati.
Berbagai riset modern pun membuktikan bahwa jamur obat ini memiliki sifat-sifat pendorong kekebalan dan antibiotik. Selain itu, jamur ini pun mampu menghalangi pertumbuhan sel-sel berbagai jenis kanker seperti kulit, paru-paru dan kanker prostat.
Bukti ilmiah yang mendukung manfaat jamur Phellinus linteus kembali diungkap melalui temuan peneliti di Amerika Serikat belum lama ini. Dari hasil pengujian, ekstrak jamur ini juga ternyata mampu menghambat perkembangan sel-sel kanker payudara dan berpotensi menjadi obat penyembuh kanker yang diderita kaum Hawa ini.
Dari riset ini pun para ahli berhasil mengungkap mekanisme di balik kekuatan jamur ini dalam menghadang ganasnya sel-sel kanker. Dengan pengujian sampel sl kanker payudara di laboratorium, terungkap bahwa jamur Phellinus linteus mampu memblok aktivitas sejenis enzim bernama AKT. Enzim yang juga merupakan katalis biologis ini diyakini mampu mengendalikan sinyal pertumbuhan sel-sel kanker dan perkembangan pembuluh darah yang menyuplai tumor.
Kanker memang membutuhkan pembuluh darah yang baik untuk dapat bertahan dalam tubuh. Kanker juga mengirim semacam pesan kimiawi untuk mendukung pembentukan pembuluh darah baru. Lewat riset, para ahli mencoba memahami mekanisme ini dan secara aktif berupaya menghambat proses perkembangannya.
Daniel Sliva dari Institut Penelitian Methodist di Indianapolis yang memimpin riset menyatakan pihaknya menemukan sejumlah temuan berharga dari penelitian sel-sel kanker payudara yang agresif ini.
"Ini termasuk rendahnya rata-rata pertumbuhan sel-sel kanker baru yang tidak terkontrol, penekanan pada perilaku agresif mereka serta pembentukan pembuluh darah yang lebih sedikit yang menyuplai nutrisi kepada sel-sel kanker," ungkap Sliva.
"Kita belum dapat menerapkan temuan ini pada pengobatan modern, tetapi kami senang bisa menjelaskan bagaimana pengobatan kuno ini bisa bekerja berdasarkan molekul tertentu ," tandasnya.
Sementara itu peneliti kanker asal Inggris Dr Lesley Walker, memperingatkan pentingnya penelitian lanjutan mengenai jamur ini.
"Meskipun produk-produk alami telah dikembangkan dalam banyak jenis obat penting, tidak ada jaminan bahwa semua itu akan aman atau akan efektif secara klinis. Hasil riset ini menarik, namun tentu terlalu dini untuk menganjurkan orang mengandalkan jamur. Riset lanjutan perlu dilakukan sebelum kita mengetahui jika ekstrak jamur dapat digunakan untuk mengobati pasien kanker," terangnya.
Sumber :sky , Kompas,Minggu, 20 April 2008
Operasi atau bedah plastik kini marak dilakukan untuk memperindah dan memperbaiki beberapa bagian tubuh tertentu terutama bagian wajah.
Masyarakat semakin mengenal bedah plastik untuk memperbaiki kelopak mata atas dan bawah serta alis, membentuk pipi, dagu, dan hidung, face lift, neck lift, membuang tato, tummy tuck, liposuction atau sedot lemak, hingga memperbesar maupun mengecilkan payudara.
Banyak anggapan yang muncul bahwa risiko bedah plastik tidaklah sebesar tindakan bedah lainnya seperti operasi organ-organ bagian dalam tubuh. Namun faktanya, risiko bedah ini sama besarnya dengan jenis operasi lainnya.
Peringatan akan besarnya risiko dari bedah plastik ditegaskan para ahli kesehatan belum lama ini. Mereka pun menekankan bahwa bedah plastik seharusnya hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang berbadan sehat.
Direktur Bedah Plastik pada University of Texas Southwestern Medical Center, Dr. Rod Rohrich, seperti dikutip kantor berita Xinhua, Sabtu (12/1), mengatakan bedah plastik memiliki risiko yang sama besar dengan bedah-bedah lainnya.
Seiring dengan makin tingginya jumlah orang yang ingin melakukan bedah plastik, khususnya di Amerika Serikat, para pakar kesehatan berupaya memberikan edukasi yang tepat tentang bedah plastik kepada masyarakat.
"Saya melihat konsumen AS menganggap operasi plastik itu seperti suatu kebutuhan pokok. Padahal, menjalani operasi plastik bukan seperti membeli sebuah sepatu. Anda bisa mengembalikannya (bila tidak cocok). Sedangkan Anda tidak bisa mengembalikan hidup Anda," terang Dr. Rohrich.
"Bedah plastik hanya dapat dilakukan bagi para pasien yang sehat. Jika mereka tidak sehat, maka jangan sekali-kali memaksakan diri menjalani bedah plastik," tegasnya lagi.
Menurut data American Society of Plastic Surgeons, sebanyak 11 juta orang menjalani bedah plastik pada 2006, atau meningkat 48 persen dibanding tahun 2000.
Sebuah studi yang dipublikasikan baru-baru ini oleh jurnal Plastic and Reconstructive Surgery mengungkapkan bahwa komplikasi serius terjadi dalam satu di antara 298 kasus, dan kematian terjadi dari satu di antara 51.459 kasus.
Dr Rohrich mengatakan, gencarnya pemberitaan media yang memfokuskan kepada kehidupan para selebritis dan tayangan reality shows di televisi menjadi penyebab utama meningkatnya popularitas bedah plastik.
Riset yang dipublikasikan oleh jurnal Plastic and Reconstructive Surgery pada Juli 2007 lalu itu juga mengungkapkan, penayangan reality shows di televisi dapat mempengaruhi orang secara langsung dalam mengambil keputusan menjalani operasi plastik.
Sumber : Xinhua , Kompas,Minggu, 13 Januari 2008
Masyarakat semakin mengenal bedah plastik untuk memperbaiki kelopak mata atas dan bawah serta alis, membentuk pipi, dagu, dan hidung, face lift, neck lift, membuang tato, tummy tuck, liposuction atau sedot lemak, hingga memperbesar maupun mengecilkan payudara.
Banyak anggapan yang muncul bahwa risiko bedah plastik tidaklah sebesar tindakan bedah lainnya seperti operasi organ-organ bagian dalam tubuh. Namun faktanya, risiko bedah ini sama besarnya dengan jenis operasi lainnya.
Peringatan akan besarnya risiko dari bedah plastik ditegaskan para ahli kesehatan belum lama ini. Mereka pun menekankan bahwa bedah plastik seharusnya hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang berbadan sehat.
Direktur Bedah Plastik pada University of Texas Southwestern Medical Center, Dr. Rod Rohrich, seperti dikutip kantor berita Xinhua, Sabtu (12/1), mengatakan bedah plastik memiliki risiko yang sama besar dengan bedah-bedah lainnya.
Seiring dengan makin tingginya jumlah orang yang ingin melakukan bedah plastik, khususnya di Amerika Serikat, para pakar kesehatan berupaya memberikan edukasi yang tepat tentang bedah plastik kepada masyarakat.
"Saya melihat konsumen AS menganggap operasi plastik itu seperti suatu kebutuhan pokok. Padahal, menjalani operasi plastik bukan seperti membeli sebuah sepatu. Anda bisa mengembalikannya (bila tidak cocok). Sedangkan Anda tidak bisa mengembalikan hidup Anda," terang Dr. Rohrich.
"Bedah plastik hanya dapat dilakukan bagi para pasien yang sehat. Jika mereka tidak sehat, maka jangan sekali-kali memaksakan diri menjalani bedah plastik," tegasnya lagi.
Menurut data American Society of Plastic Surgeons, sebanyak 11 juta orang menjalani bedah plastik pada 2006, atau meningkat 48 persen dibanding tahun 2000.
Sebuah studi yang dipublikasikan baru-baru ini oleh jurnal Plastic and Reconstructive Surgery mengungkapkan bahwa komplikasi serius terjadi dalam satu di antara 298 kasus, dan kematian terjadi dari satu di antara 51.459 kasus.
Dr Rohrich mengatakan, gencarnya pemberitaan media yang memfokuskan kepada kehidupan para selebritis dan tayangan reality shows di televisi menjadi penyebab utama meningkatnya popularitas bedah plastik.
Riset yang dipublikasikan oleh jurnal Plastic and Reconstructive Surgery pada Juli 2007 lalu itu juga mengungkapkan, penayangan reality shows di televisi dapat mempengaruhi orang secara langsung dalam mengambil keputusan menjalani operasi plastik.
Sumber : Xinhua , Kompas,Minggu, 13 Januari 2008
Bagi seorang perempuan, ukuran payudara adalah salah satu faktor penting yang mempengaruhi kepercayaan diri terutama dari segi keindahan dan penampilan. Namun ukuran payudara ternyata tak sebatas mempengaruhi penampilan saja. Menurut sebuah riset terbaru, ukuran payudara -khususnya saat usia remaja - dapat dijadikan indikator apakah seorang wanita memiliki risiko mengidap penyakit diabetes tipe 2 di kemudian hari.
Seperti yang dimuat dalam Canadian Medical Association Journal, edisi Selasa (29/1), kaitan antara ukuran payudara dengan risiko diabetes berhasil diungkap oleh para peneliti dari Universitas Toronto dan Harvard Medical School, Kanada. Mereka menganalisis kumpulan data dari sekitar 92.000 wanita yang dilibatkan dalam Nurse's Health Study II di Amerika Serikat.
Dari hasil analisis, peneliti menemukan bahwa para wanita yang memakai bra ukuran D pada usia 20 ternyata tercatat 60 persen berisiko lebih besar mengidap diabetes tipe 2 ketimbang mereka yang berukuran lebih kecil. Risiko diabetes pun tampak meningkat secara progresif seiring dengan bertambahnya ukuran payudara..
Riset yang dilaporkan surat kabar Toronto Star itu juga mengungkapkan bahwa wanita yang mencatat index massa tubuh (BMI) tinggi ditambah memiliki payudara besar saat berusia 20 berisiko empat kali lipat mengidap diabetes tipe 2 ketimbang mereka yang mencatat BMI rendah dan payudara berukuran kecil.
Obesitas, khususnya yang berhubungan dengan penumpukan lemak di perut , sejauh ini memang dikenal sebagai salah satu faktor utama yang membuat seseorang rentan terhadap penyakit diabetes tipe 2. Memalui riset terbaru ini , peneliti mengidikasikan bahwa cadangan lemak di payudara wanita mungkin menjadi faktor independen yang memperbesar risiko diabetes.
Peneliti juga mengingatkan bahwa riset ini masih dalam tahap awal, sehingga masih perlu ada penelitian lainnya untuk membuktikan sekaligus menguji kemungkinan hubungan antara ukuran payudara dan risiko.
Sumber : Healthdaynews, Kompas,Kamis, 31 Januari 2008
KANKER payudara tampaknya makin menakutkan saja bagi para wanita. Mereka yang berpotensi mengalami penyakit ini diprediksikan akan terus meningkat. Bila tidak ada perbaikan signifikan dari faktor gaya hidup dan kemajuan teknik pengobatan, para ahli memperkirakan pada tahun 2024 nanti satu dari tujuh wanita akan terkena kanker payudara.
Proyeksi bakal meningkatnya jumlah penderita kanker payudara diungkap sebuah riset terbaru para ahli dari Genesis Breast Cancer Prevention Centre di Manchester, Inggris. Riset menyebutkan, faktor gaya hidup menjadi kunci dalam perkembangan kanker ini. Penelitian juga menyatakan, risiko para wanita yang membawa sejenis gen pemicu kanker payudara di Inggris telah meningkat secara dramatis dalam 60 tahun terakhir.
Di Inggris, saat ini diproyeksikan satu dari 10 wanita mengalami penyakit kanker payudara menjelang usia 80 tahun. Peneliti memperkirakan proyeksi ini akan meningkat menjadi satu dari tujuh wanita mengalami kanker dalam 16 tahun mendatang.
Untuk menekan pertumbuhan risiko kanker payudara, pimpinan riset Professor Gareth Evans menyarankan para wanita untuk menikah lebih awal serta mengindari penggunaan obat-obat hormon dan kontrasepsi dalam jangka panjang. Para ahli juga menganjurkan para wanita lebih rajin berolahraga dan menerapkan pola diet yang sehat.
Dalam risetnya, Evans melibatkan 1.442 wanita yang memiliki gen-gen pemicu kanker payudara, yakni BRCA1 dan BRCA2. Sekitar satu dari 500 orang diyakini memiliki gen yang telah bermutasi yang meningkatkan risiko kanker payudara hingga 85-90 persen.
"Peningkatan kasus kanker payudara ini terefleksi dalam populasi secara umum. Pada 1984 hanya satu dari 13 wanita diproyeksikan mengalami kanker payudara dalam hidupnya. Pada 2004, angkanya mencapai satu dalam 10, dan jika rata-rata ini meningkat diprediksikan pada 2024 nanti satu dari tujuh wanita di Inggris akan mengalami kanker payudara menjelang 80 tahun.
"Ini dapat diartikan bahwa akan ada tambahan korban 4.000 orang yang meninggal bila tidak ada perbaikan signifikan dalam hal pengobatan," ujar Evans yang juga memublikasikan risetnya dalam BMC Cancer Journal.
Sumber :BBC , Kompas,Senin, 2 Juni 2008
SIAPA bilang pria tidak mungkin terkena kanker payudara? Ya, pria juga dapat mengidap kanker payudara karena sama-sama memiliki jaringan payudara. Bahkan, menurut penelitian terbaru, penyakit kanker pada kaum Adam ini sering kali ditemukan sudah dalam stadium lanjut karena terlambat diagnosis.
Dr Marina Garassino dari University of Study di Milan, Italia, menyimpulkan bahwa kasus kanker payudara pada pria kerap ditemukan dalam kondisi parah. Kesimpulan itu diambilnya setelah menganalisis catatan kesehatan 146 pria pengidap kanker payudara yang berusia rata-rata 62 tahun.
Dalam laporan risetnya, Garassino menyebutkan sepertiga pria ditemukan mengidap kanker payudara stadium lanjut ketika mereka memeriksakan diri ke dokter.
"Ini tidak sama dengan para perempuan. Pada perempuan, persentase stadium lanjut kurang dari 10 persen," ujarnya.
Garassino yang memublikasikan temuannya pada konferensi yang digagas European Society for Medical Oncology menduga, baik dokter maupun pasien memberi andil besar atas terlambatnya diagnosis kanker payudara pada kalangan pria.
"Para dokter mungkin tidak mengenali tumor ini pada pria, mereka melihat sebuah benjolan, tetapi mereka tidak berpikir bahwa itu adalah kanker payudara. Demikian juga pria mungkin tidak akan curiga bahwa mereka mengidap tumor dan walhasil mereka lebih lambat datang ke dokter ketimbang wanita."
"Kanker payudara pada pria adalah penyakit yang sangat dipengaruhi faktor hormonal. Ada banyak bukti jika ditangani sejak dini, prognosisnya akan lebih baik dibandingkan dengan wanita,” papar Garrasino.
Hasil penelitian itu juga menyatakan, dari seluruh pria yang menjalani bedah untuk mengangkat kanker mereka, 48 pria di antaranya harus menjalani terapi radiasi dan 100 pria diberikan tambahan kemoterapi ataupun terapi hormon. Sementara itu, 42 pria (30 persen) tidak memerlukan terapi apa pun pascaoperasi.
Secara keseluruhan, lanjut laporan itu, pria yang didiagnosis kanker payudara stadium dini memiliki rata-rata harapan hidup 10 tahun ke depan mencapai 47 persen. Adapun pada pria yang didiagnosis kanker stadium lanjut, persentasenya mencapai 44.
"Pesan buat para pria, jika Anda punya benjolan di payudara Anda, pergilah segara ke dokter. Jangan menunggu lagi karena mungkin saja Anda mengidap tumor," tandas Garrasino.
Sumber : Reuters , Kompas,Selasa, 8 Juli 2008
BUKTI ilmiah bahwa kedelai bermanfaat bagi pencegahan penyakit kanker tampaknya terus berkembang. Kacang yang kaya akan kandungan protein ini diyakini memilik potensi besar melawan pertumbuhan kanker payudara, terutama jika dikonsumsinya sejak masa pubertas.
Para peneliti dari Georgetown Medical Center dalam laporan riset yang dimuat British Journal of Cancer menekankan bahwa para wanita ABG sebaiknya rajin mengonsumsi makanan terbuat dari kedelai jika ingin terhindar dari risiko kanker payudara. Dalam kedelai, menurut peneliti terkandung sejenis zat kimia penting bernama genistein yang diklaim efektif melawan kanker.
Walau begitu, tantangan besar masih dihadapi para peneliti dalam pemanfaatan zat genistein dalam kedelai ini. Mereka harus memastikan bagaimana kedelai ini dapat digunakan dengan tepat untuk menyediakan perlindungan bagi para wanita remaja dari penyakit yang ganas ini.
¨Penentuan waktu tampaknya penting dalam penggunaan makanan bioaktif ini dan jika kita bisa mengungkapkan mengapa zat ini dapat melindungi, maka kita bisa menyediakan pencegahan kanker payudaa dalam cakupan yang lebih luas,´ ungkap peneliti Leena Hilaviki-Clarke PhD, profesor onkologi dari Lombardi Comprehensive Cancer Center di Georgetown.
Walaupun ada berbagai teori sementara yang menjelaskan hubungan kedelai dengan pencegahan kenker. ¨Namun saat ini belum ada penjelasan yang meyakinkan tentang mengapa efek penurunan risiko kanker ini lebih kuat selama masa kanak-kanak dan awal pubertas,¨ tambahnya.
Sejauh ini, baru ada tiga riset yang meneliti manfaat kedelai pada masa pubertas serta pengaruhnya pada perkembangan kanker payudara tahap lanjut. Dua di antara penelitian ini difokuskan pada wanita Asia yang mengonsumsi kedelai dalam menu kesehariannya.
Riset-riset ini mengindikasikan bahwa kedelai menawarkan efek perlindungan yang sangat kuat - yakni sekitar 50 persen penurunan risiko kanker payudara - ketika dikonsumsi selama masa kanak-kanak dan awal remaja.
Menurut Hilakivi-clarke, bukti terkuat justru terungkap lewat berbagai riset pada tikus. Dari riset binatang ini, data mengenai paparan genistein pada masa pra pubertas sangat konsisten dalam menunjukkan penurunan risko kanker. Paparan genistein dalam perkembangan janin atau pun pada masa dewasa justru tidak menunjukkan dampak proteksi yang sama.
Pengujian lebih jauh pada tikus menunjukkan bahwa penggunaan genistein pada masa pubertas dapat menekan kadar TEB (terminal end buds) atau struktur yang menyebabkan pertumbuhan jaringan epitel mamari, dimana sel-selnya melapisi saluran susu, dan di dalam sel-sel epitelial inilah kanker payudara berkembang.
Sumber :sciencedaily , Kompas,Kamis, 10 April 2008
Bila Anda termasuk penikmat kopi, hasil penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Swedia ini mungkin perlu dipertimbangkan. Menurut kesimpulan mereka, minum kopi dalam jumlah tertentu bisa membuat dada menjadi rata.
Penelitian yang dipublikasikan dalam British Journal of Cancer tersebut melibatkan 300 wanita penikmat kopi. Mereka ditanyai berapa cangkir kopi yang dikonsumsi perhari. Dari pengukuran yang dilakukan, ternyata ditemukan kalau wanita yang minum tiga cangkir kopi atau lebih dalam sehari, memiliki ukuran payudara 17 persen lebih kecil dari responden yang hanya minum kopi kurang dari tiga cangkir.
Tim peneliti menyimpulkan, terlalu banyak kafein berpengaruh pada kadar hormon dalam tubuh yang juga berdampak pada ukuran payudara. "Minum kopi bisa berdampak pada ukuran payudara karena bisa membuat ukuran makin kecil," kata Helena Jernstrom dari Universitas Lund, Swedia.
Tapi, bukan berarti Anda harus menghentikan kebiasaan minum kopi. Pasalnya penelitian ini hanya melibatkan sedikit responden, selain itu dibutuhkan penelitian lanjutan untuk membuktikannya. Namun penelitian ini bisa jadi pengingat kita pada pepatah yang mengatakan semua jangan berlebihan.
Sumber :Telegraph, Kompas,Selasa, 28 Oktober 2008
Anda sering merasa bra yang Anda kenakan kurang nyaman, terlalu sempit, atau tidak dapat menyangga payudara Anda dengan sempurna? Salah memilih bra memang merupakan problem kebanyakan wanita. Bayangkan, satu dari tiga wanita mengenakan bra dengan ukuran yang salah. Padahal sebenarnya mudah saja menyesuaikan bra dengan ukuran dan bentuk yang sesuai. Coba ikuti triknya berikut ini.
Don't: Mengenakan sport bra, kecuali Anda memang sering berolahraga. Sport bra tidak baik untuk jaringan payudara.
Do: Kenakan bra dari katun dengan model yang lebih nyaman dipakai, tanpa terasa sakit akibat kawat di bagian bawahnya.
Don't: Mengenakan bra yang terlalu longgar atau terlalu banyak memanjangkan talinya, sehingga membuat payudara menggantung.
Do: Pilih bra dengan tali yang cukup lebar dan elastis sehingga menyokong payudara dengan baik.
Don't: Mengenakan bra dengan cup yang terlalu sempit, sehingga sebagian payudara menyembul di bagian bawah atau samping.
Do: Pilih bra dengan ukuran cup yang dapat menampung seluruh payudara, sehingga Anda merasa lebih nyaman dan lebih bagus juga dilihat.
Don't: Mengenakan bra yang tipis tanpa busa pada payudara yang memang sudah rata.
Do: Tidak ada salahnya menyeimbangkan ukuran payudara dengan bentuk tubuh secara keseluruhan. Kenakan push up bra yang memberikan Anda "keseimbangan" ekstra.
Don't: Memakai demi bra, atau bra dengan cup yang terlalu mini sehingga hanya menutupi sebagian payudara.
Do: Pilih bra model 3/4 atau dengan cup yang menutupi payudara dengan sempurna.
Don't: Mengenakan bra yang terlalu besar atau sudah kendur sehingga memperlihatkan celah di sela-sela payudara.
Do: Kenakan bra yang dapat mengangkat payudara ke atas tanpa terasa mengikat atau terlalu menekan.
Don't: Mengenakan strapless bra dengan cup yang terlalu sempit, sehingga hanya menutupi bagian ujung payudara.
Do: Kenakan cup dengan ukuran satu nomor lebih besar, sehingga payudara didukung dan dibentuk dengan pas.
Tips memilih dan merawat bra:
1. Jangan memasukkan bra dengan kawat penyangga ke dalam pengering, karena panas mesin bisa merusak bentuk selamanya.
2. Jika bentuk payudara Anda penuh, pilih bra yang terbuat dari nylon-Lycra karena lebih tahan lama.
3. Jangan lupa, seringkali ukuran payudara tidak sama antara yang kiri dan yang kanan. Kenakan bra dengan cup yang lebih besar agar pas untuk payudara yang lebih besar.
Sumber :Glamour , Kompas,Senin, 15 Juni 2009
Buat Anda yang ingin memperbesar payudara, tetapi takut menghadapi pisau bedah, masih ada jalan meski hasilnya tidak memuaskan dan permanen, seperti karya dokter bedah plastik. Inilah pilihan jalur nonoperasi yang layak dicoba:
1. Olahraga
Payudara tak memiliki otot, hanya terdiri dari sel lemak, saluran susu, dan kelenjar. Olahraga tak bisa memperbesar ukuran payudara, tetapi dapat menjadikan tubuh lebih kencang dan tegak. Otomatis payudara terlihat lebih besar.
Berenang membuat payudara terlihat lebih besar karena melatih otot dada yang bergerak melawan air. Lakukan latihan untuk mengencangkan otot pektoral di bawah payudara. Setelah otot kencang, jaringan dada menjadi lebih kencang dan kenyal. Pada dasarnya latihan membesarkan dada ini merupakan latihan ekspansi dada.
2. Pakai Bra Khusus
Pakailah bra yang dirancang secara profesional sehingga bisa memperbaiki penampilan tanpa harus operasi implan payudara. Bila bra jenis ini sulit didapat, Anda bisa membeli bra dengan ganjalan busa sehingga payudara terlihat lebih besar.
3. Visualisasi Payudara Lebih Besar
Anda pernah mendengar tentang the Secret? Rhonda Bryne, penulis buku fenomenal itu, mendefinisikan law of attraction, yaitu sebuah prinsip tarik-menarik. Prinsip itu menerangkan apa yang kita ciptakan adalah pilihan-pilihan yang kita buat dan kita pikirkan sendiri.
Kenapa tidak mempraktikkan prinsip itu untuk membuat payudara terlihat cantik? Rilekskan diri terlebih dahulu. Pijat payudara dengan lembut dan pastikan diri percaya bahwa payudara jadi lebih besar. Lakukan ini sesering mungkin saat kita merasa nyaman dengan diri sendiri.
4. Hati-Hati terhadap Janji Palsu
Selain suntik dan vakum, ada lagi suplemen yang menjanjikan bisa memperbesar payudara. Namun, menurut Sandhya Pruthi, MD, spesialis kesehatan payudara dari Mayo Clinic, AS, tidak ada bukti bahwa suplemen ini benar-benar berkhasiat memperbesar payudara.
Bahan-bahan dalam suplemen tersebut adalah herbal yang secara historis memperbaiki produksi ASI sehingga tidak akan memperbesar payudara. Belakangan ini ada lagi suplemen yang mengklaim bisa memperbesar payudara secara dramatis. Ternyata isi kandungan suplemen itu fitoestrogen yang bekerja seperti estrogen dalam tubuh kita yang membuat payudara bertumbuh.
"Mungkin masuk akal bahwa fitoestrogen bisa meningkatkan ukuran payudara, tetapi belum ada penelitian yang membuktikan suplemen sejenis itu bisa membesarkan payudara," ujarnya.
Sumber :Tabloid Gaya Hidup Sehat, Kompas, Selasa, 8 Juli 2008
PEREMPUAN yang memiliki payudara besar kerap dikaitkan dengan mitos kanker payudara. Sejumlah perempuan khawatir kalau ukuran payudara mereka berbanding lurus dengan risiko mengidap kanker menakutkan itu. Namun, benarkah demikian?
Pendapat ini dibantah oleh spesialis bedah tumor dari RSCM, dr Erwin Danil Yulian, Sp B (K) Onk, dalam seminar "Embrace Life with Breast Cancer" yang diselenggarakan oleh Yayasan Kanker Indonesia dan GE Women's Network di CityWalk Sudirman Jakarta, Rabu (12/11).
Menurut Erwin, ukuran payudara tidak selalu menjadi faktor risiko terkena kanker payudara.
"Yang menjadi faktor resiko justru obesitas," ujarnya.
Erwin mengatakan, bisa saja pendapat timbul dari pemahaman bahwa wanita yang mengalami kegemukan atau obesitas memiliki ukuran payudara yang relatif lebih besar.
"Memang selalu berhubungan, tapi yang berhubungan (dengan risiko kanker) sebenarnya adalah obesitas," kata Erwin.
Oleh karena itu, Erwin menganjurkan kepada para wanita untuk berhati-hati dengan gaya hidup dan pola makan sehari-hari. Konsumsi makanan berserat dan aktivitas olahraga secara teratur dapat menjadi salah satu upaya pencegahan.
"Meski cuma berjalan, sekitar 30 menit setiap hari. Cukup istirahat dan jangan terlalu capai. Pesimistis juga jangan berlebihan," tandas Erwin.(Kompas,Rabu, 12 November 2008)
OBSESI untuk mendapatkan payudara yang lebih besar bukanlah hal baru. Boleh dibilang hampir semua wanita menjadikan payudara sebagai sumber kepercayaan diri akan kecantikannya. Bahkan di Asia, permintaan untuk bra berukuran lebih besar semakin meningkat di banding beberapa tahun lalu. Oleh karena itu, opini bahwa sebagian besar wanita Asia memiliki payudara kecil, tidak lagi berlaku. Namun, apakah yang menyebabkan perubahan ini?
Sementara wanita menyalahkan pria yang kerap mengeluhkan payudara ala Pamela Anderson (meskipun ini tidak berlaku bagi semua pria) – para wanita pun rela mengeluarkan uang jutaan untuk memperindah belahan payudara mereka melalui operasi. Kebanyakan wanita menganggap payudara yang seksi dan menggairahkan adalah pertanda kedewasaan seorang wanita karena dinilai sebagai objek kecantikan alami dan gairah seksual yang bakal membuat iri wanita lain sekaligus dihormati.
Hal itulah yang menjadi alasan mengapa di zaman modern ini, melakukan operasi pembesaran payudara sama halnya dengan membeli tas tangan mewah. Dan ketika harga turun serta teknik operasi menjadi lebih praktis, jumlah wanita yang melakukan operasi pembesaran payudara diperkirakan akan semakin meningkat.
Dr Marco Faria-Correa, salah satu dokter bedah plastik ternama asal Brazil yang berpraktek di Gleneagles Hospital, Camden Medical Centre dan East Shore Hospital di Singapura mengatakan jumlah pasien pembesaran payudara semakin meningkat seiring dengan harga yang lebih terjangkau dan proses operasinya pun kini semakin praktis. Pemikiran yang matang wajib hukumnya.
“Hal ini merupakan keputusan pribadi setiap pasien, oleh karena itu sebaiknya mereka memahami semua prosedur dan menyetujui resiko yang mungkin terjadi. Meski demikian, sebagian besar wanita yang telah melakukan operasi ini mengaku mengalami perubahan yang baik dalam kehidupan mereka.”
Tujuan utama dari terlihat hebat adalah dengan merasa hebat! Apapun alasannya, prosedur bedah kosmetik adalah sekedar sarana untuk menciptakan citra diri yang lebih baik. Bagi beberapa pasien, perubahan sekecil apapun dapat menimbulkan efek psikologis yang luar biasa. Pasien yang sedang mempertimbangkan bedah kosmetik harus jujur dengan tujuan mereka sendiri. Karena perubahan yang diakibatkan oleh bedah plastik akan permanen dan sering dramatis.
Karena itulah penting bagi setiap wanita untuk mempertimbangkan dan berpikir lebih matang sebelum memutuskan melakukan bedah payudara. Tidak seperti tas tangan, satu model dan ukuran, belum tentu cocok untuk semua. (FlyFreeForHealth2008,Jumat, 28 November 2008)
Sementara wanita menyalahkan pria yang kerap mengeluhkan payudara ala Pamela Anderson (meskipun ini tidak berlaku bagi semua pria) – para wanita pun rela mengeluarkan uang jutaan untuk memperindah belahan payudara mereka melalui operasi. Kebanyakan wanita menganggap payudara yang seksi dan menggairahkan adalah pertanda kedewasaan seorang wanita karena dinilai sebagai objek kecantikan alami dan gairah seksual yang bakal membuat iri wanita lain sekaligus dihormati.
Hal itulah yang menjadi alasan mengapa di zaman modern ini, melakukan operasi pembesaran payudara sama halnya dengan membeli tas tangan mewah. Dan ketika harga turun serta teknik operasi menjadi lebih praktis, jumlah wanita yang melakukan operasi pembesaran payudara diperkirakan akan semakin meningkat.
Dr Marco Faria-Correa, salah satu dokter bedah plastik ternama asal Brazil yang berpraktek di Gleneagles Hospital, Camden Medical Centre dan East Shore Hospital di Singapura mengatakan jumlah pasien pembesaran payudara semakin meningkat seiring dengan harga yang lebih terjangkau dan proses operasinya pun kini semakin praktis. Pemikiran yang matang wajib hukumnya.
“Hal ini merupakan keputusan pribadi setiap pasien, oleh karena itu sebaiknya mereka memahami semua prosedur dan menyetujui resiko yang mungkin terjadi. Meski demikian, sebagian besar wanita yang telah melakukan operasi ini mengaku mengalami perubahan yang baik dalam kehidupan mereka.”
Tujuan utama dari terlihat hebat adalah dengan merasa hebat! Apapun alasannya, prosedur bedah kosmetik adalah sekedar sarana untuk menciptakan citra diri yang lebih baik. Bagi beberapa pasien, perubahan sekecil apapun dapat menimbulkan efek psikologis yang luar biasa. Pasien yang sedang mempertimbangkan bedah kosmetik harus jujur dengan tujuan mereka sendiri. Karena perubahan yang diakibatkan oleh bedah plastik akan permanen dan sering dramatis.
Karena itulah penting bagi setiap wanita untuk mempertimbangkan dan berpikir lebih matang sebelum memutuskan melakukan bedah payudara. Tidak seperti tas tangan, satu model dan ukuran, belum tentu cocok untuk semua. (FlyFreeForHealth2008,Jumat, 28 November 2008)
Puting payudara termasuk salah satu area paling sensitif dari tubuh manusia, termasuk pria. Namun sebagian perempuan tidak merasakan sensasi apa pun ketika puting payudaranya disentuh atau tidak selalu merasakannya. Perempuan lain bahkan melonjak mundur karena merasa tidak nyaman saat disentuh dan harus berpura-pura menikmatinya. Apakah hal ini menunjukkan suatu ketidaknormalan? Bagaimana pula mengatasinya?
Menurut Dr Hilda Hutcherson, profesor klinis di bidang obstetri dan ginekologi untuk Diversity and Minority Affairs di College of Physicians and Surgeons, Columbia University, New York City, hal ini ternyata bukan sesuatu yang langka. Banyak perempuan yang tidak merasakan kenikmatan ketika puting mereka distimulasi.
"Setiap perempuan itu berbeda, dan bagi beberapa di antaranya, puting payudara bukanlah bagian yang sensitif dari anatomi tubuh mereka. Untungnya, seluruh tubuh kita adalah suatu zona erotis yang besar. Tugas Andalah menemukan area yang paling sensitif di tubuh Anda," ujar Hutcherson.
Penulis buku Pleasure: A Woman's Guide to Getting the Sex You Want, Need and Deserve ini juga mengatakan, ketika jemari kaki Anda melengkung sewaktu dibelai, dicubit, atau dipijat, itu tanda bahwa di situlah area sensitif Anda.
Kemungkinan lain dilontarkan oleh Veronica, seorang ghost writer yang berbasis di New York City. Beberapa pria dan wanita memiliki puting yang terlalu sensitif karena konsentrasi pada ujung saraf. Ketika perempuan mendapatkan terlalu banyak sensasi pada area tersebut, hal ini justru akan membuatnya tak mampu menikmati sentuhan tersebut.
Menurutnya, masalah utama dari hal itu bukan pada fisik, melainkan pada kurangnya komunikasi. Bila Anda terus berpura-pura menikmati sentuhan si dia di payudara, maka hal ini akan membuatnya tak lagi berusaha menstimulasi hotspot Anda yang sesungguhnya. Sampaikan saja mana bagian tubuh Anda yang ingin disentuh, atau bimbing tangan si dia ke arah zona tersebut.
Jika oversensitivitas merupakan akar masalahnya, ada cara lain untuk mengatasinya. Misalnya, mintalah suami menatap Anda, sementara Anda menstimulasi sendiri puting payudara Anda. "Pasangan bisa meletakkan tangannya di punggung tangan Anda, mengikuti gerakan Anda. Meskipun Anda tidak disentuh secara langsung, pasangan tetap akan menyentuh Anda," demikian sarannya.
Cara ini cukup menguntungkan karena Anda bisa merasakan keintiman yang luar biasa. Anda bisa merasakan kesabaran suami, pengertiannya akan kondisi Anda, kemampuannya mendengarkan keinginan Anda, dan hasratnya untuk membuat Anda senang.
Puting payudara yang kurang sensitif juga bisa merupakan gejala dari masalah medis. Jika sensitivitas tidak selalu ada, maka Anda perlu berkonsultasi dengan dokter. Siapa tahu Anda akan diminta untuk melakukan pemeriksaan mamografi untuk mengetahui kelainan pada payudara Anda.
Sumber :Glamour , Kompas,Senin, 22 Februari 2010



















