Tampilkan postingan dengan label Keputihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keputihan. Tampilkan semua postingan

Warna Lendir Kewanitaan Berdasarkan Siklusnya

Perubahan warna pada lendir kewanitaan sering dihubungkan dengan infeksi, misalnya keputihan. Meski kemungkinan tersebut harus selalu diwaspadai, ada juga yang bukan disebabkan oleh infeksi tapi memang dipengaruhi siklus menstruasi.

Selain sebagai pelicin saat berhubungan seks, lendir kewanitaan juga berfungsi untuk menjaga kebersihan vagina. Dengan kadar keasaman tertentu, lendir tersebut menciptakan lingkungan yang nyaman bagi bakteri baik namun mematikan bagi bakteri jahat.

Meski normalnya berwarna bening, lendir kewanitaan sering mengalami perubahan warna dan tidak semuanya menandakan adanya infeksi. Berbagai perubahan kondisi yang terjadi dalam siklus menstruasi juga bisa menyebabkan warna lendir berubah.

Dikutip dari Pamf.org, Minggu (5/12/2010), berikut ini berbagai perubahan warna lendir kewanitaan berdasarkan siklus menstruasi.

Putih
Lendir berwarna putih dengan kosistensi kental biasanya muncul di akhir siklus, menjelang menstruasi. Normalnya tidak disertai gatal, namun apabila gatal itu berarti ada infeksi jamur candida (yeast infection).

Bening
Lendir yang bening dan mulur atau tidak mudah putus jika direnggangkan di antara kedua jari menunjukkan masa subur. Hubungan seks yang dilakukan tanpa pengaman ketika lendir seperti ini muncul dapat menyebabkan terjadinya kehamilan.

Kuning atau hijau
Adanya infeksi jamur atau bakteri dapat menyebabkan lendir kewanitaan berwarna kuning atau hijau, biasanya disertai bau busuk atau amis seperti bau ikan. Lendir dengan warna seperti itu bisa muncul setiap saat sepanjang siklus selama infeksi belum diobati.

Cokelat
Sesaat setelah menstruasi berakhir, lendir masih sering bercampur dengan sisa-sisa darah kotor dan bercak dari endometrium yang luruh. Sampai vagina benar-benar bersih, lendir masih akan berwarna kecokelatan meski sudah tidak ada perdarahan.

Bercak kemerahan
Pada beberapa orang, lendir yang disertai bercak darah sering muncul pada masa subur dan masa-masa awal kehamilan. Jika pernah melakukan hubungan seks tanpa alat kontrasepsi kemudian muncul lendir seperti ini, sebaiknya segera melakukan tes kehamilan. (detikhealth)

Cairan Putih Sebelum Haid Pertanda Apa?

Setiap perempuan pasti pernah mengalami keputihan atau keluar cairan dari vagina, terutama sebelum datang bulan. Pertanda apa kondisi tersebut?

Fungsi dasar dari vagina adalah menjadi sarana antara bagian luar dengan rahim dan seluruh sistem internal reproduksi perempuan.

Secara alami sifat dari vagina adalah asam yang disebabkan oleh bakteri baik yang diproduksi tubuh. Bila vagina sehat, maka vagina akan bersih dengan sendirinya dan memproduksi sekresi secara normal.

Dikutip dari Womenshealth.about.com, Rabu (13/10/2010) kelenjar di leher rahim vagina akan menghasilkan sejumlah kecil cairan yang mengalir keluar vagina.

Dalam jumlah yang normal cairan ini bisa membantu membersihkan vagina. Umumnya cairan ini tidak berbau dan akan mengering di pakaian.

Lalu normalkah cairan putih yang keluar sebelum menstruasi?

Cairan putih yang keluar sebelum menstruasi adalah suatu hal yang normal, selama cairan tersebut tidak berbau dan tidak menimbulkan gatal.

Pada umumnya kondisi ini hampir terjadi pada semua perempuan. Karena hal ini merupakan salah satu mekanisme tubuh untuk menjaga vagina agar terbebas dari infeksi.

Saat menstruasi akan segera datang atau sudah mendekati, maka cairan yang keluar bisa jadi menjadi lebih lengket. Dan jika masa menstruasi sudah datang akan ditandai dengan warna cairan yang berubah menjadi coklat, kondisi ini menandai hari pertama menstruasi.

Ketika menstruasi sudah berakhir atau saat akan memulai awal siklus menstruasi, cairan putih yang keluar akan menjadi lebih sedikit. Saat itulah masa ovulasi (masa subur) dimulai, tingkat estrogen dan progesteron akan naik dan turun beberapa kali serta mempengaruhi warna cairan putih atau transparan yang keluar.

Namun jika cairan yang keluar sebelum menstruasi berwarna putih pekat atau agak kekuningan seperti keju dan disertai dengan rasa nyeri serta ketidaknyamanan di dalam dan sekitar vagina, maka kondisi ini bisa jadi diakibatkan oleh infeksi jamur. Jika cairannya berwarna putih keabu-abuan atau kuning dan berbau tak sedap seperti ikan, maka hal ini disebabkan oleh vaginosis bakteri.

Jadi, jika sebelum menstruasi cairan yang keluar tidak menunjukkan gejala lain seperti gatal, nyeri atau bau, maka cairan yang keluar dari vagina tersebut adalah normal.(detikhealth)

Perhatian Ekstra Saat Haid


Keputihan bisa timbul akibat penanganan organ kewanitaan yang kurang baik, khususnya ketika Anda sedang menstruasi.

Selama menjalani siklus menstruasi, organ intim perempuan berada dalam kondisi yang lebih lembap dari biasanya. Itulah mengapa setiap perempuan harus lebih memperhatikan kondisi organ intim selama menstruasi.

Dr. dr. Junita Indarti, SPOG , spesialis kebidanan dan penyakit kandungan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo , memaparkan bahwa akibat dari lalai menjaga kebersihan organ intim khususnya ketika siklus menstruasi adalah tumbuhnya mikroorganisme yang tidak diharapkan. Kelalaian ini juga bisa menimbulkan bau, infeksi, juga keputihan yang tidak wajar. “Darah itu, kan, media kuman yang baik, mengingat selama menstruasi darah akan menempel di permukaan vulva, maka kita harus terus menjaga kebersihannya agar kelembapan vagina tetap terjaga,” ujar Junita.



Pada dasarnya, vagina dalam keadaan normal pun memang tetap memiliki bakteri. Namun ada bakteri yang baik, ada juga bakteri yang dapat menjadi patogen. Junita menuturkan, di samping bakteri baik seperti lactobacillus , spora Candida  adalah bakteri yang dikenal sebagai penyebab keputihan. “Jika kelembapan vagina berada di atas ambang normal, spora Candida  ini dapat menjadi patogen sehingga ada kemungkinan membuat infeksi yang menyebabkan keputihan. Akibatnya sangat mengganggu karena vagina jadi berbau dan gatal,” papar Junita.

Tangan Harus Bersih

Keluhan keputihan pada perempuan cukup tinggi. Oleh karena itu, kaum hawa harus memahami cara menjaga kesehatan organ reproduksi yang benar. Salah satunya memastikan tangan dalam kondisi bersih ketika bersentuhan langsung dengan vagina. “Mencuci tangan terlebih dahulu itu penting. Ketika membasuh pun kita harus memastikan airnya benar-benar bersih atau sesekali gunakan air hangat. Sementara jika menggunakan air yang mengalir, misalnya dengan disemprot, semprotannya jangan terlampau kencang," tukas Junita.

Rangkaian membersihkan organ kewanitaan ini dilakukan agar tidak ada bakteri yang berasal dari tangan hinggap ke vagina. Selain itu, penting juga untuk membersihkan daerah kewanitaan menggunakan sabun dengan Ph yang sesuai, yaitu sekitar 4,5. Tindakan ini bertujuan untuk menjaga keasaman vagina agar tetap pada kondisi yang diperlukan. Namun, dosen Universitas Indonesia ini juga menambahkan, bahwa penggunaan pewangi untuk vagina sebenarnya tidak terlampau perlu karena zat kimia di dalamnya rentan membuat alergi.

Memastikan vagina dalam keadaan kering sebelum kita mengenakan celana dalam agar kelembapannya terjaga juga tak kalah penting. “Ini sangat penting. Bukan sekadar membersihkan dengan mengusap tisu, tapi celah di antara dua labia  harus ikut diusap lembut dari arah depan ke belakang,” tambah Junita. Lain halnya jika Anda sedang mengalami keputihan. Selain melakukan perawatan tadi, Anda pun wajib mengganti celana dalam secara rutin agar tetap kering dan nyaman.

Pilah-Pilih Pembalut

Beragam jenis pembalut di pasaran menawarkan berbagai inovasi yang mengklaim sebagai produk terbaik dan teraman untuk kesehatan. Menanggapi hal ini, Junita menyatakan, pada dasarnya tidak ada jenis pembalut yang lebih baik atau lebih buruk. “Tidak ada kategori khusus, yang penting dapat menyerap darah haid dengan baik dan membuat nyaman,” ujar Junita.

Dengan demikian, kriteria pembalut yang baik akan berbeda setiap orangnya. Baik dilihat dari ukuran panjang maupun ketebalan, semua tergantung pada setiap individu. Begitu juga dengan pembalut herbal yang disebut-sebut lebih sehat dan aman. “Pembalut herbal, sebenarnya sama saja. Pasalnya, kandungan herbal atau antibakteri yang terkandung dalam pembalut, kan, hanya bekerja di permukaan vagina. Ia tidak sampai masuk ke liang vagina sehingga tidak bisa mengobati ke dalam,” tegas Junita.

Ia lantas menambahkan bahwa kandungan antibakteri atau antioksidan pada pembalut pun sebenarnya tidak terlampau perlu. “Intinya, sih, membuat nyaman. Apakah daya serapnya baik dan ukurannya pas? Itu saja cukup. Karena ada juga, kan, pembalut yang penyerapannya tidak maksimal.”

Rutin Ganti Pembalut

Normalnya, haid terjadi dalam siklus 21-35 hari, selama tiga hingga tujuh hari dalam satu siklusnya. Dalam kisaran yang normal pula, jumlah darah selama satu siklus menstruasi kurang lebih sebanyak 50 cc. Namun jumlah darah selama haid pada setiap perempuan berbeda-beda. Oleh karena itu, sebenarnya tidak ada aturan baku mengenai jangka waktu mengganti pembalut.

Meski demikian, kunci menjaga kebersihan dan kesehatan vagina selama masa menstruasi, tegas Junita, adalah dengan rutin mengganti pembalut. “Jadi tidak perlu memilih pembalut yang seperti apa, yang penting rutin menggantinya,” tambahnya. Waktu terbaik untuk segera mengganti pembalut adalah ketika Anda sudah merasa lembap dan tidak nyaman. “Intinya jika pembalut dirasa sudah penuh, lembap, dan membuat tidak nyaman, berarti harus diganti. Umumnya setiap empat hingga enam jam sekali,” tutur Junita.

Jadi, jangan menunda penggantian pembalut sebab perempuan menghasilkan bahan sekresi yang bersifat basa ketika menstruasi. Jika darah haid didiamkan menempel terlalu lama, pembalut dapat menjadi tempat berkembangnya jamur. Anda tak ingin, kan, organ reproduksi menjadi gatal dan berbau karena malas mengganti pembalut?

Mengenal Tampon

Fungsi dan bahan dasar tampon sebenarnya sama saja dengan pembalut. Namun, bahan pembuat tampon dipadatkan sehingga berbentuk tabung. “Pengunaannya dimasukan ke liang vagina sehingga kita lebih leluasa bergerak. Itu kelebihannya. Namun risikonya pun lebih besar karena posisi tampon lebih dekat ke mulut rahim," papar Junita.

Karena penggunaannya dimasukan langsung ke liang vagina, maka selain memastikan ukuran yang dipilih sesuai, tangan juga harus benar-benar bersih sebelum menggunakan tampon. “Agar tetap bersih dan mencegah timbulnya bakteri, lebih baik ganti setiap tiga jam sekali dan tidak digunakan ketika tidur. Karena waktu tidur itu lama dan ketika itu bakteri bisa tumbuh,” pungkas Junita.

Penggunaan tampon di Indonesia memang tidak begitu populer. Pasalnya, penggunaan tampon yang dimasukkan ke liang vagina pun memiliki risiko tersendiri. “Misalnya pada perempuan yang belum menikah, pasti ada ketakutan menggunakannya karena bisa jadi menembus atau melukai selaput dara. Apalagi jika menggunakan tampon berukuran besar. Seperti pembalut, tampon pun tersedia dalam berbagai ukuran,” papar Junita.

Perlu Panty Liners?

Menjelang siklus menstruasi, tak jarang perempuan mengalami masa keputihan. Untuk menyiasatinya, beberapa orang memilih menggunakan panty liners  untuk menjaga permukaan vagina agar tetap kering.

Sebenarnya, perlukah menggunakan panty liners  ini? “Pada dasarnya, vagina dapat membersihkan daerah kewanitaannya sendiri, jadi itu tidak perlu. Memang itu dapat menyerap lendir, tapi sebaiknya tidak digunakan rutin karena justru tidak sehat jika terus menggunakannya,” papar Junita. Pasalnya, meskipun tujuan menggunakan panty liners  untuk menjaga permukaan vagina agar tetap kering, pada kenyataannya penggunaan panty liners  justru membuat permukaan vagina tidak memiliki ruang untuk bernapas sehingga membuat lembap.

“Ketika memang sedang keputihan tak apa menggunakan, tapi sesekali saja. Sesuaikan dengan tujuannya juga. Artinya, lihat kebutuhannya. Jangan digunakan secara rutin,” pungkas Junita. (tabloid nova)
 

Popular Posts

Cloud