Menghaluskan Kulit dengan Cokelat

Cokelat tak cuma bermanfaat untuk jantung, tetapi juga menyehatkan kulit. Polyphenol pada bahan makanan itu sanggup mencegah terjadinya penuaan dini.

Polyphenol adalah salah satu kandungan yang terdapat pada cokelat. Zat itu berfungsi antioksidan yang secara aktif akan melindungi jaringan tubuh dari radikal bebas, termasuk zat-zat yang dapat merusak sel-sel pada kulit. Selain itu, minyak cokelat atau cocoa butter yang merupakan hasil sampingan dari buah cokelat juga bermanfaat untuk menghaluskan kulit. Bahkan, keunggulan minyak cokelat ini lebih baik dibandingkan minyak lain yang dikenal sebagai minyak kecantikan.

Jadi jelas, cokelat memang tidak sebatas dimakan dan diminum. Lebih dari itu, cokelat banyak memberikan manfaat bagi kesehatan. Karena itulah, Centre de Beaute, sebuah salon kecantikan di Kebayoran Baru, Jakarta, misalnya, memilih cokelat sebagai metode untuk memperbaiki serta meremajakan kulit tubuh.

Metode yang digunakan adalah dengan mengoleskan atau melumerkan minyak dan serbuk cokelat pada tubuh. Kemudian, bagian tubuh yang diolesi cokelat itu dibungkus dengan plastik agar pori-pori kulit terbuka sehingga campuran minyak dan serbuk cokelat terserap oleh kulit. Tidak lebih dari 10 hingga 15 menit, berbagai masalah kesehatan kulit pun dapat teratasi.

Mudah diserap kulit

Ahli kecantikan kulit sekaligus Presiden Direktur salon tersebut, Janny Bodhiphala, mengatakan, minyak cokelat memiliki kandungan gizi bagi kulit yang lebih besar dibandingkan minyak sejenis. Adapun serbuk cokelat selain halus juga lebih mudah diserap oleh kulit.

"Cokelat sejak dulu memang merupakan bahan utama untuk membuat bahan kosmetik, terutama minyaknya. Sebagai bahan untuk membuat lipstik, cokelat menjadikan bibir seperti berminyak saat dipakai," ungkap Janny Bodhiphala yang juga pemilik Centre de Beaute. "Selain itu, karena cokelat merupakan bahan alami, tak ada halangan bagi siapa pun untuk mencobanya. Artinya, apa pun jenis kulit tak akan ada efek sampingannya."

Biasanya mereka yang memanfaatkan atau memilih metode oles cokelat ini berasal  dari golongan usia menua antara 40 dan 60 tahun. Meski begitu, tidak tertutup kemungkinan bagi mereka yang masih muda, tetapi mengalami kesehatan kulit seperti penuaan dini, kulit kering, atau keriput pada sekitar bagian mata atau wajah untuk menikmati perawatan.

Dilulur dulu
Untuk memperoleh manfaat cokelat bagi kesehatan kulit, peminat bisa mengupayakannya melalui beberapa tahap. Di Centre de Beaute, sebelum memasuki proses utama, yaitu pengolesan atau pelumeran dengan minyak dan serbuk cokelat, peminat harus membersihkan kulit melalui cara lulur, yakni membersihkan dan mengangkat sel-sel kulit mati. Biasanya lulur ini dibantu dengan menggunakan krim lulur yang mengandung butiran-butiran.

Setelah kulit bersih, langkah kedua adalah melakukan massage atau pemijatan dengan menggunakan minyak cokelat. "Dalam tahapan ini, Anda akan merasakan bagaimana minyak cokelat lebih tinggi kadar serta kelembutannya dibanding minyak lain," ungkap Janny.

Langkah ketiga, berikan serbuk cokelat yang telah dilumerkan sehingga berbentuk cair yang kental. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, seluruh kulit tubuh sebaiknya diolesi tanpa terkecuali. Pada tahap ini, Anda akan merasakan kehangatan pada seluruh tubuh. Dari sinilah sebenarnya proses perbaikan kulit dimulai.

Karena itu, agar kehangatan itu memberikan manfaat maksimal, tahapan terakhir adalah melakukan pembungkusan dengan plastik khusus. Tujuannya agar kehangatan itu dapat dibatasi dan tidak menguap. Suhu yang terjaga di kulit tentu akan membuat pori-pori kulit terbuka sehingga campuran antara minyak dan serbuk cokelat akan terserap oleh kulit. "Pembungkusan dilakukan seperti membungkus mumi agar diperoleh hasil maksimal. Anda tak perlu kawatir karena hasilnya dapat langsung Anda buktikan. Kulit yang tadinya keriput jadi kencang, bersih, dan sehalus kulit bayi," ungkap Janny.

Setelah antara 10 dan 15 menit tubuh terbungukus, pasien selanjutnya langsung bisa mandi untuk membersihkan tubuh. "Anda tak perlu takut. Minyak cokelat ini tidak sulit dibersihkan seperti minyak sejenis. Selain mudah dibersihkan, minyak cokelat juga tidak lengket di kulit."

Selain belum populer, metode perawatan kulit dengan oles cokelat ini memang terbilang mahal. Bahkan, jika dilakukan secara sempurna, penggunaan minyak dan serbuk cokelat ini biayanya bisa mencapai Rp 20 juta lebih.

Mengapa mahal? Karena bila pengolesan dilakukan dengan metode berendam di bathup, maka tentu saja minyak dan serbuk cokelat yang dibutuhkan lebih banyak, lebih kurang satu kuintal. Padahal, harga campuran itu per kuintalnya sekitar Rp 20 juta. Alasan inilah yang membuat metode oles dianggap lebih praktis, apalagi hasilnya tak kalah mengilat dibanding berendam. Buktikan saja.

Sumber :Tabloid Gaya Hidup Sehat , Kompas, Kamis, 26 November 2009

Pilih Mana, Cokelat Putih atau Coklat?

Selain cokelat berwarna cokelat, dikenal pula cokelat berwarna putih. Orang sering lebih memilih cokelat putih ini dengan anggapan kandungan lemaknya lebih rendah dari cokelat berwarna. Eit, jangan salah. Cokelat putih tidak mengandung padatan biji buah kakao (mentega kakao) yang dicampur dengan padatan susu dan gula. Nah, mentega kakao ini sangat jenuh, artinya mengandung kolesterol tinggi.

Justru cokelat berwarna cokelat sangat baik untuk kesehatan, apalagi yang kandungan buah kakaonya melebihi 60 persen. Karena, selain mengandung sejumlah gizi penting seperti magnesium, kalsium, kalium, zat besi, Vitamin B, D, dan E, juga mengandung senyawa flavonoid yang membantu mencegah gangguan jantung koroner dan pertumbuhan sel-sel kanker. Bahkan menurut penelitian, kandungan magnesium pada cokelat dapat memperbaiki mood perempuan menjelang dan selama haid.

(Sumber : CHIC, Sabtu, 28 Juni 2008)

Buah Merah Bukan Obat HIV/AIDS


Buah merah yang banyak tumbuh di wilayah pegunungan Papua belum terbukti secara klinis sebagai obat penyembuh HIV/AIDS.
   
"Dari hasil penelitian yang dilakukan Departemen Bio Kimia UI (Universitas Indonesia), komponen yang dipakai sebagai anti-HIV pada buah merah ternyata tidak memberi respons pada hewan percobaan," kata Ketua Program Studi Farmasi Kedokteran pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Dr dr Ernie H Purwaningsih MS di Jakarta.
   
Dalam penelitian itu, pihak Bio Kimia UI menggunakan tikus sebagai hewan percobaan. Meski demikian, katanya, perlu penelitian lebih lanjut dengan menggunakan hewan percobaan lain guna memastikan apakah buah merah benar-benar bukan sebagai obat penyembuh HIV/AIDS.
   
Menurut Ernie, klaim buah merah sebagai obat penyembuh HIV/AIDS sebagaimana yang disugestikan oleh sebagian masyarakat Papua selama ini tidak bisa diterima begitu saja karena harus diteliti dan diuji kebenarannya melalui uji klinis selama beberapa kali.
   
Kasus HIV/AIDS saat ini menjadi masalah yang sangat krusial di Papua mengingat penularannya demikian cepat hingga menembus angka di atas 5.000 orang. Sebagian besar warga yang tertular HIV/AIDS di Papua merupakan penduduk lokal dari berbagai suku di Papua.
   
Ironisnya, jumlah penduduk lokal di pulau terbesar di ujung timur Nusantara itu saat ini diperkirakan hanya 2,5 sampai tiga juta jiwa.
   
Untuk menekan pertumbuhan kasus HIV/AIDS di Papua, Gubernur Papua Barnabas Suebu SH menetapkan tahun 2009 sebagai "tahun perang" terhadap HIV/AIDS.
   
Daerah dengan tingkat populasi HIV/AIDS tertinggi di Papua saat ini adalah Kabupaten Mimika dengan jumlah penderita HIV/AIDS per 31 Desember 2008 sebanyak 1.700 orang.(Kompas, Selasa, 19 Mei 2009)

Ekstrak Meniran Bantu Penderita AIDS


PARA penderita HIV/AIDS kini mendapat sebuah harapan baru dalam meningkatkan kesembuhan. Berdasarkan hasil temuan awal dari Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, peluang penderita HIV/AIDS untuk sembuh semakin meningkat dengan mengombinasikan pengobatan antiretroviral dengan terapi adjuvant menggunakan ektrak meniran atau phylanthus.

Seperti diungkap DR.Drs.Suprapto Ma'at, Apt, MS, di Jakarta, Kamis (21/8), ektrak meniran berpotensi meningkatkan harapan kesembuhan para penderita HIV/AIDS karena terbukti dapat meningkatkan kadar salah satu jenis sel pertahanan tubuh Limfosit T - terutama sel T helper (sel Th).

"Ekstrak meniran untuk penderita HIV AIDS bersifat sebagai adjuvant, terutama untuk meningkatkan T-helpernya. Saya akan rencanakan untuk menelitinya lebih lanjut dan sangat yakin hasilnya akan baik," ungkap  DR. Suprapto dalam diskusi Kolaborasi Jangka Panjang Penelitian dan Industri Farmasi yang digagas PT. Dexa-Medica .

Ektrak menir, jelas Suprapto, pada prinsipnya dapat digunakan sebagai terapi adjuvant pada pengobatan infeksi yang membandel seperti infeksi virus, infeksi jamur, infeksi bakteri, intraseluler dan penyakit infeksi kronis lainnya.

"Adjuvant artinya membantu dalam menanggulangi suatu infeksi. Selain diberikan obat standar,  ditambah dengan stimulan.  Dengan terapi adjuvant, proses penyembuhan penyakit bisa lebih cepat dan yang lebih penting adalah menghilangkan proses kekambuhan," papar peneliti yang baru mendapat penghargaan BJ Habibie Technology Award 2008 atas riset aplikatifnya tentang tanaman Meniran untuk Stimuno itu.

Kasus unik
Keyakinan DR.Suprapto akan prospek cerah esktrak meniran bagi pengobatan AIDS makin bulat setelah ia menemukan kasus peningkatan sel Th secara signifikan pada seorang pasien di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya belum lama ini.

"Beberapa bulan lalu, ada seorang pasien asal Denpasar yang juga anak seorang dokter kandungan. Sakit yang dialami pasien ini awalnya belum diketahui penyebabnya, namun tiga bulan terakhir suhu tubuhnya tak pernah di bawah 39 derajat celcius," ungkapnya.

Pasien ini, lanjut DR Suprapto, sempat dicurigai menderita enfeksi malaria dan TBC, tetapi upaya pengobatan tak kunjung membuahan hasil. Tim dokter yang terdiri dari beberapa ahli akhirnya menyimpulkan bahwa pasien ini mengalami masalah kekebalan tubuh, sehingga harus diperiksa kadar limfositnya - terutama sel Th (T-helper atau CD4+).

Sel Th ini berfungsi mengaktifkan dan mengatur sel-sel lainnya pada sistem kekebalan (misalnya limfosit B, makrofag dan limfosit T sitotoksik) yang semuanya membantu menghancurkan sel-sel ganas dan organisme asing.

Hasil pemeriksaan T-helper ternyata menunjukkan bahwa kadarnya sangat rendah yakni 52, yang bisa dikategorikan pasien sudah mengidap AIDS stadium lanjut. Dokter lalu memberikan ekstrak manira dengan penambahan dosis secara bertahap setiap bulan dan ternyata jumlah sel Th terus meningkat sebelum akhirnya kembali normal memasuki bulan ketiga.

"Dengan kasus ini, ada rencana untuk melakukan penelitian penggunaan ekstrak meniran di antara pasien HIV/AIDS, terutama AIDS," ujarnya

DR Suprapto juga telah meminta kepada RSUD Dr Soetomo untuk membantu pasien HIV/AIDS tidak mampu dengan memberikan ekstrak filantus sebagai terapi adjuvant bersama obat atretroviral.
"Saya yakin ekstrak menir nanti akan dapat membantu, bukan mengobati, penyembuhan HIV/AIDS. Atau paling tidak memperbaiki kualitas hidup dan memperpanjang umur penderita," tegasnya. (kompas,Kamis, 21 Agustus 2008)

Echinacea tak Efektif Cegah Flu?

SAAT ini banyak produk obat tradisional seperti jamu anti masuk angin, multivitamin atau minuman berenergi mengandung herbal Echinacea beredar di pasaran. Echinacea memang telah dikenal luas sebagai salah satu jenis herbal yang diklaim berkhasiat meningatkan kekebalan tubuh, menangkal flu dan mengobati infeksi. 

Namun begitu, penelitian tentang khasiat dan manfaat herbal Echinacea terus berkembang dan kerap mengundang kontroversi. Banyak penelitian yang memberikan dukungan, tetapi tak sedikit yang meragukan manfaatnya.

Riset terbaru yang dipublikasikan dalam Annals of Allergy Asthma misalnya, meragukan khasiat herbal yang disarikan dari tanaman coneflower ini, khususnya dalam mencegah gejala flu.

Para ahli dari the University of California San Francisco mengklaim tidak menemukan bukti yang kuat bahwa echinacea dapat mencegah hidung tersumbat (nasal congestion), nyeri tenggorokan atau gejala flu lainnya.

Kesimpulan itu diambil setelah mereka melakukan riset terhadap 58 partisipan yang dipantau kesehatannya selama delapan pekan.  Partisipan dalam penelitian ini secara acak diwajibkan meminum salah satu dari tiga kapsul echinacea  atau tiga kapsul berisi ekstrak seledri dan plasebo.  Obat ini wajib dikonsumsi secara teratur dua kali sehari selama periode penelitian.

Seminggu sekali, peneliti menanya partisipan apakah selama sepekan ke belakang mereka mengalami sakit tenggorokan, hidung berair, sakit kepala atau gejala flu lainya.

Dari hasil pemantauan terungkap, kelompok yang mengonsumsi echinacea melaporkan  sembilan ¨hari sakit¨ per orang, sedangkan pada kelompok plasebo tercatat sebanyak 14.

Perbedaan jumlah tersebut tidaklah bersifat tetap ketika para peneliti melakukan analisis data statistik - yang berarti  bahwa perbedaan pada ¨hari sakit¨ bisa saja disebabkan karena peluang atau kemungkinan.

¨Meskipun echinacea disebut- sebut sebagai peningkat kekebalan dan telah dijual di banyak apotik, hasil riset ini adalah salah satu dari sekian banyak yang meragukan dan tidak mendukung penggunaan echinacea dalam mencegah flu,¨ ungkap pimpinan riset Dr.Joelle O’Neil seperti dikutip Reuters Health.

Namun  begitu, tegas Neill, riset ini dan banyak penelitian lainnya mengidikasikan pula bahwa penggunaan produk standar echinacea yang dipasarkan luas saat ini tidak merugikan kesehatan.

Neill juga menekankan, riset ini tidak ditujukan untuk mengetahui apakah echinacea bermanfaat meringankan gejala flu atau mempercepat penyembuhan.     

(Sumber : Reuters , Kompas,Jumat, 25 April 2008)

Ekstrak Meniran Terbukti Cegah Influenza Jemaah Haji

Pemberian Phyllanthus niruri atau ekstrak meniran bersamaan dengan multivitamin dapat mengurangi risiko Penyakit influenza-like illness (ILI) pada jemaah haji Indonesia selama menjalankan ibadah haji.

Demikian paparan DR.Masdalina Pane, SKM, MKes dan koleganya yang meneliti khasiat meniran untuk mencegah ILI pada jemaah haji Indonesia dari subdirektorat kesehatan haji Depkes RI di Jakarta, Senin (30/03).

Isu kesehatan pada jemaah haji Indonesia selalu menjadi topik hangat tiap tahunnya. Penyakit ILI yang merupakan salah satu Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang sering ditemukan pada jemaah haji Indonesia berdasarkan laporan tahunan pelaksanaan haji.

Masdiana menjelaskan influenza-like illness (ILI) secara klinis didefinisikan sebagai ISPA yang disebabkan oleh virus dengan gejala utama batuk kering, demam tinggi sekitar 38,5 derajat celcius, rasa lelah berlebihan, nyeri otot, meriang, demam, sakit kepala, tenggorokan dan hilang nafsu makan.

Ia mengatakan berdasarkan data laporan tahunan penyelenggaran haji, hampir 60% jemaah haji Indonesia tiap tahunnya terkena ISPA, dan 85% nya merupakan ILI dan hanya 15% saja yang benar-benar influenza.

Masdalina mengatakan selama ini jemaah haji Indonesia hanya diberikan vaksin Meningitis meningocous secara gratis sebelum berangkat ke tanah suci. Sementara itu bagi jemaah yang memerlukan vaksin tambahan, biasanya akan diberi vaksin influenza sesuai permintaan jemaah.

Namun menurutnya pemberian vaksin influenza juga tidak dapat mencegah individu terserang ILI, karena strain patogen virus yang menyebabkan ILI berbeda dengan influenzea.

Berangkat dari permasalahan tersebut, maka subdirektorat kesehatan haji Depkes RI bersama dengan Divisi alergi-imunologi klinik departemen penyakit dalam FK UI, RSCM dan didukung oleh PT Dexa Medica mengadakan penelitian dan uji klinis untuk pencegahan ILI pada jemaah haji Indonesia.

dr.Iris Rengganis, SpPD, KAI, salah satu peneliti yang melakukan uji klinis terhadap jemaah haji dari departemen ilmu penyakit dalam FKUI mengatakan penelitian ini dilakukan pada 309 jemaah haji Indonesia tahun 2007/2008(1428 H) dengan kisaran usia 18-65 tahun yang secara klinis dinilai sehat oleh tim kesehatan haji.

"Dalam penelitian ini jemaah dibagi sebara acak menjadi tiga kelompok," ujar Iris. Kelompok pertama dan kedua hanya diberikan Phyllanthus niruri atau multivitamin saja. Sedangkan kelompok satunya lagi diberikan kombinasi keduanya.

"Produk uji kita berikan dengan dosis dua kali sehari untuk kapsul Phyllanthus niruri 50 mg dan sekali sehari untuk tablet multivitamin selama 40 hari yang meliputi seminggu sebelum berangkat dari tanah air dan selama perjalanan haji," jelas Iris.

Selama mengikuti penelitian, subyek tidak diperkenankan minum suplemen lainnya. Setelah 40 hari uji coba, selanjutnnya dilakukan evaluasi klinis. Menurut Iris, dari hasil evaluasi klinis didapat data yang menunjukkan pemberian Phyllanthus niruri tunggal kepada kelompok pertama menunjukkan penurunan jumlah jamaah yang terjangkit ILI menjadi 10,5%, kelompok multivitamin tunggal sebesar 12,7 %, dan kelompok kombinasi sebesar hanya 8,1%.

"Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang mendapatkan kombinasi keduanya dapat menekan kemungkinan terkena ILI paling kecil diikuti dengan kelompok yang mendapat meniran tunggal. Baru setelah itu kelompok yang hanya mendapat multivitamin," tutur Iris.

Menurutnya kesimpulan yang didapat adalah pemberian Phyllanthus niruri bersamaan dengan multivitamin dapat mengurangi risiko ILI pada jemaah haji Indonesia selama menjalankan ibadah haji.

Sementara itu peneliti sub bagian patologi Universitas Airlangga, DR.Drs.Suprapto Maat, MS.Apoteker pada kesempatan yang sama menjelaskan bahwa ekstrak tanaman Phyllantus niruri telah dibuktikan secara klinis oleh peneliti yang bernama Thabrew dapat meningkatkan aktivitas sistem komplemen melalui jalur klasik yang pada akhirnya dapat meningkatkan sitotoksisitas sel natural killer (NK) untuk menambah daya tahan tubuh.(Kompas,Senin, 30 Maret 2009 )

Sepuluh Jurus Cegah Flu

FLU tergolong penyakit yang mestinya dapat dicegah. Banyak kasus flu yang sebetulnya tak perlu diderita hanya karena kita lalai atau mungkin tidak tahu cara mencegahnya. Di bawah ini beberapa tip bagaimana agar flu yang mengancam di musim penghujan ini tidak sampai menimpa kita. Apa sajakah yang perlu dikerjakan?

Jangan anggap enteng flu. Khusus bagi yang sudah berusia lanjut, serangan flu umumnya lebih berat dibanding bila menimpa mereka yang lebih muda. Selain karena sistem kekebalan tubuh mereka yang memasuki usia uzur sudah kian menurun, tipe virus flu yang masuk ke dalam tubuh juga belum tentu sama.

Kita mengenal tiga keluarga besar tipe virus flu (tipe A, B, dan C). Masing-masing tipe punya sekian banyak anggota keluarganya sendiri. Virus flu burung H5N1, misalnya, tergolong dalam keluarga besar virus flu tipe A. Sekerabat dengan itu kita mengenal juga strain virus H3N2 (Shangdong dan Beijing), H1N1 (Texas dan Singapura), dan banyak lagi lainnya, selain tipe B Panama dan Yamagata.

Perangai anggota keluarga masing-masing tipe virus flu juga tidak sama derajat keganasannya. Ada yang jinak, ada pula yang ganas luar biasa. Flu yang lazim menyerang penduduk Eropa, misalnya, tidak seperti di Indonesia, umumnya tergolong jenis virus flu yang ganas, dan sering amat mematikan. Wabah flu awal abad XX di Spanyol, menelan ratusan ribu korban tewas.

Oleh karena tidak semua virus, termasuk virus flu, ada obat antinya, kunci pamungkas mencegah virus flu masih tetap hanya ada dua cara, yakni dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan mengurangi kemungkinan tubuh dimasuki oleh virus.

Ikuti sepuluh cara berikut ini untuk pencegahan:
1. Minta vaksin flu. Bagi yang sudah uzur dianjurkan untuk mendapatkan suntikan vaksin flu selama musim flu datang. Namun, tidak semua jenis virus bisa ditangkal dengan vaksin flu.

Dari waktu ke waktu vaksin flu disempurnakan dengan kandungan jenis-jenis vaksin oleh tipe virus flu yang tengah menimbulkan wabah. Namun, selain berbeda tipe virusnya, bukan kejadian jarang muncul jenis virus yang lolos dari upaya penangkalan, saking beragamnya jenis dan strain virus flu yang ada. Belum lagi kemungkinan virusnya berubah tabiat (mutasi), sehingga sebuah vaksin menjadi tak lagi poten menangkalnya.

2. Jauhi diri dari paparan dingin. Orang Barat menjuluki flu sebagai catch cold atau terpapar dingin. Memang, semakin lama dan sering tubuh terpapar yang serba dingin (udara, air mandi, ruangan berpendingin, minuman dingin, angin), semakin lemah ketahanan tubuh, dan kian rentan untuk gampang terserang virus (apa saja).

Kita tahu, bibit penyakit virus hanya bisa dilawan dengan mengandalkan daya tahan tubuh. Kalau daya tahan menurun, pertahanan tubuh akan jebol, dan flu atau penyakit oleh virus lainnya berpotensi bakal menjangkiti. Hanya bila pertahanan tubuh kokoh saja, virus yang sudah masuk ke dalam tubuh akan bisa ditumpas dan orang batal jatuh sakit flu.

Itu sebab selama tubuh hanya ditumpangi oleh virus flu saja, pemberian obat antibiotika, yang paling kuat sekalipun, menjadi mubazir karena virus tak bisa ditumpas oleh antibiotika jenis dan generasi apa pun. Selain sia-sia mengeluarkan uang untuk yang tak perlu, tubuh sudah dibebani oleh efek samping antibiotikanya.

Kasus flu sejatinya tidak perlu diberi antibiotika. Di Indonesia, flu umumnya dianggap penyakit enteng. Orang masih tetap melakukan aktivitas hariannya di kantor, sekolah, dan kegiatan luar rumah lainnya.

Penyakit flu yang tadinya hanya dihuni oleh virus saja, akibat tubuh dalam kondisi sudah diperlemah oleh serangan virus, bibit penyakit lain akan mudah ikut mendompleng memasuki tubuh, lalu muncul penyakit baru. Dengan cara itu, penyakit flu di Indonesia umumnya sering berkepanjangan, dan malah bisa berkomplikasi.

Tidak jarang flu berkembang menjadi infeksi THT lain (infeksi tenggorok, kerongkongan, hidung, atau congekan), selain kemungkinan terinfeksi oleh kuman pendompleng yang memasuki paru-paru juga (bronchopneumonia, pneumonia).

Itu pula alasan kenapa mereka yang sedang flu sebaiknya tinggal di rumah. Selain berpotensi merugikan diri sendiri, dalam keadaan flu berada di luar rumah akan menyebarkan virusnya ke udara di sekitar pasien, terlebih bila berada di ruangan (yang dirancang tertutup tak berventilasi) berpendingin.

3. Perkuat tubuh. Dengan beristirahat dan menu bergizi tinggi selama musim hujan, tubuh diperkuat ketahanannya. Selain dengan cara menghangatkan tubuh (minum hangat, mandi hangat, balur obat gosok), pilih pula menu bergizi tinggi, khususnya berpotein tinggi (telur, susu, daging), tak cukup menu sayur-mayur belaka (sayur bening).

Orang Barat biasa menghidangkan sup ayam hangat selama tubuh terpapar di udara dingin. Hindarkan mandi hujan, embusan angin, berada di udara terbuka. Buat kita dapat memilih minuman penghangat badan (wedang jahe, bandrek, bajigur, atau sekoteng), khususnya sehabis tubuh mandi hujan, berenang dingin, wisata pantai.

4. Hindari pergi ke tempat-tempat keramaian. Selagi musim hujan, dan banyak orang sedang sakit flu, sebaiknya tidak bepergian ke tempat-tempat keramaian kalau tidak perlu sekali. Kalau bisa ditunda sebaiknya tidak mengunjungi pasar tradisional, supermarket, mal, bioskop, terminal, stasiun, ruang tunggu puskesmas, rumah sakit, sekolah, ruang pesta. Di tempat-tempat orang berkerumun, virus flu, termasuk jenis virus lain, terbang bertebaran di udara, dan hidung kita menghirup udaranya.

5. Kurangi rokok dan alkohol. Kedua jenis zat ini berpotensi menurunkan ketahanan tubuh. Merokok ”melukai” selaput lendir saluran napas, sehingga menjadikan saluran napas lebih rentan dimasuki virus. Ruangan yang berasap rokok, memperlemah kondisi saluran napas orang-orang yang menghirupnya juga (passive smoker).

6. Rajin basuh tangan dengan sabun. Tangan dan jemari kita dapat menjadi sumber pemindahan virus yang melekat dari lingkungan tempat kita melakukan aktivitas, seperti kantor, sekolah, dan kamar kecil di tempat-tempat umum. Studi tentang ini sudah dikerjakan sewaktu SARS mewabah dulu.

Tangan kita tentu bersentuhan dengan pegangan pintu kamar mandi, pintu mobil, tombol lift, gagang telepon, lembaran atau kepingan uang, permukaan meja, kursi, dan segala yang disentuh banyak orang. Dari sana virus yang sudah mencemari segala yang disentuh (oleh pengidap flu) bisa berpindah ke jemari tangan kita.

Pengidap flu perlu tahu diri untuk tidak seenaknya bersin dan batuk-batuk di rungan yang banyak orangnya, selain sepatutnya rajin membasuh tangan juga (sebab pasti sudah memegang liang hidung dan mulutnya yang bervirus).

Orang lain yang berdekatan dengan pasien flu, berbicara, dan terancam cemaran virusnya, perlu lebih sering membasuh tangan, dan tidak sembarang memegang hidung (mengupil, membersihkan liang hidung), atau mulut. Biasakan menggunakan saputangan, atau tisu, untuk membersihkan liang hidung atau mulut. Lewat kedua liang itulah virus flu akan memasuki tubuh, termasuk virus flu burung (avian influenzae).

7. Membersihkan liang hidung setiap pulang bepergian. Ya, selama bepergian ke luar rumah, terlebih selama musim flu berjangkit, nyaris tak ada udara yang tidak tercemar virus flu, terlebih di lingkungan yang ada pasien flu. Hampir pasti udara yang kita hirup selama di luar rumah, ada virus flunya. Termasuk bila di rumah ada yang sedang sakit flu.

Bagaimanapun keadaannya, jauh lebih baik bila segera membersihkan liang hidung dengan sabun, setiap kali pulang bepergian, sambil berulang-ulang dengan cara sekuat-kuatnya mengembus-embuskan udara hidung selama dibersihkan. Dengan cara demikian sekurang-kurangnya gerombolan virus yang mungkin sudah mengendon di situ akan terpelanting keluar dari liang hidung sebelum sempat bersarang, dan berbiak.

8. Berkumur-kumur, dan tidak kurang tidur. Virus flu memasuki tubuh lewat liang hidung dan rongga mulut. Selain saluran hidung harus terjaga bersih, mulut pun perlu kokoh pertahanannya. Untuk itu ada baiknya lebih sering berkumur.

Selain bisa memilih seduhan daun sirih (ada daya antisepsisnya), dapat juga memakai obat kumur yang dibeli bebas di apotek. Dengan cara demikian kita berupaya mengenyahkan bibit penyakit yang mungkin sudah mulai mengendap di rongga mulut, termasuk bila yang masuk virus flu.

Selain berkumur, tentu menggosok gigi, khususnya sebelum tidur malam. Rongga mulut yang kotor juga memperlemah ketahanannya. Terlebih pada mereka yang sudah tidak memiliki amandel (kelenjar tonsilnya sudah diangkat), sehingga tak punya pasukan penjaga rongga mulutnya dari ancaman bibit penyakit. Termasuk mereka yang gigi-geliginya sudah keropos, terinfeksi, dan membusuk akar giginya. Mereka lebih rentan terinfeksi rongga mulutnya.

9. Lakukan olah napas. Ya, daya tahan tubuh juga membutuhkan asupan oksigen yang lebih penuh. Upaya olah napas, yakni dengan cara menghela napas (di udara segar terbuka) seberapa dalam kita mampu, dan menahannya seberapa lama kita bisa, akan lebih membugarkan paru-paru. Paru-paru yang bugar, yang lebih deras aliran darahnya, dan meningkat sistem kekebalan lokalnya, akan lebih diberdayakan untuk mampu mengenyahkan bibit penyakit.

Untuk menyempurnakan hasil olah napas, sertai pula dengan gerak badan yang memadai seperti berjalan kaki dan bersenam. Faktor stres fisik, selain stres mental, juga menambah rentan tubuh seseorang terserang virus flu. Keletihan yang berlebihan (akibat bekerja maupun latihan fisik) tidak dianjurkan selama musim flu.

10. Cukup tidur dan tidak begadang. Tantangan orang sekarang adalah acap tergoda oleh begitu banyak iming-iming tontonan televisi, hiburan, dan kegiatan bareng di luar rumah di waktu jeda.

Salah satu ancaman penyakit yang banyak menimpa orang sekarang sering sebab kekurangan waktu jeda. Sudah letih di kesibukan siang hari, malamnya sering kurang waktu tidur. Alih-alih sempat tidur siang (seperti orang dulu), tidur malam juga sering tak memadai.

Kondisi kurang jeda, kurang tidur, dan tidur pun tidak nyenyak (sebab stres, terlampau letih), yang menambah rentan tubuh diserang virus umumnya, virus flu khususnya.

Bila mulai terasa badan mulai pegal-pegal, kepala pening, mata terasa panas, mulai bersin dan batuk-batuk kecil, kemungkinan gejala awal flu. Itulah saatnya langsung minum obat flu merek apa saja, dan tidur setelah makan sup atau minuman hangat. Biasanya dengan cara itu flu batal muncul.

Namun, obat warung tidak kuasa menahan laju perjalanan penyakit flu bila sudah telanjur berat. Percuma terus mengonsumsi obat flu saja bila flu sudah lebih dari seminggu, dan gejalanya bertambah berat. Lendir yang semula bening encer sudah berubah kental berwarna, itu berarti flu sudah ditunggangi oleh bibit penyakit lain. Inilah saatnya obat flu perlu didampingi oleh antibiotika.

Di zaman semakin banyak hiburan tengah malam, coba untuk tidak selalu mengikuti kata hati, kendatipun demi si jantung hati. Mereka yang tengah mengidap penyakit menahun (kencing manis, gagal ginjal, penyakit jantung, kanker) tentu lebih ”lemah” dibanding orang normal.

(Penulis: Dr. Handrawan Nadesul, Sumber :Gaya Hidup Sehat, Kompas,Jumat, 11 Januari 2008)
 

Popular Posts

Cloud